Cerita.co.id – Insiden taksi hijau Green SM yang mogok di perlintasan rel kereta api Bekasi Timur, Jawa Barat, baru-baru ini memicu kecelakaan beruntun yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL, menjadi sorotan utama. Pihak kepolisian mengidentifikasi korsleting listrik pada kendaraan sebagai penyebab awal insiden nahas tersebut. Namun, analisis mendalam dari seorang pakar membuka dimensi baru mengenai potensi pemicu lain di balik kejadian ini.
Agus Purwadi, seorang peneliti dari National Center for Sustainable Transportation Technology (NCSTT) Institut Teknologi Bandung (ITB), mengemukakan pandangannya. Menurut Agus, sistem kendali elektronik pada kendaraan modern, baik listrik maupun konvensional (ICE), seperti Power Control Unit (PCU), Vehicle Control Unit (VCU), atau Engine Control Unit (ECU), sangat rentan terhadap pengaruh medan magnet kuat. Medan magnet semacam ini, jelasnya, bisa berasal dari arus listrik yang mengalir di jalur atas maupun pada rel kereta api itu sendiri.

Agus menambahkan, pentingnya pengujian Electro Magnetic Compatibility (EMC) untuk sistem kontrol kendaraan listrik (UNR 100) dan motor listrik (UNR 136) telah diatur. Tujuannya adalah memastikan sistem kontrol tidak saling mengganggu atau terganggu oleh medan elektromagnetik pada ambang batas tertentu yang telah ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa potensi gangguan elektromagnetik bukanlah hal baru dalam standar keselamatan kendaraan.

Related Post
Gambar-gambar yang beredar menunjukkan kondisi taksi berwarna hijau tersebut rusak parah di lokasi kejadian, tepatnya di Stasiun Bekasi Timur, pada Selasa lalu. Kerusakan ini menjadi bukti nyata dampak fatal dari insiden tersebut.
Meski demikian, Agus menenangkan para pengemudi mobil listrik agar tidak perlu cemas berlebihan saat melintasi perlintasan kereta. Kuncinya adalah memastikan posisi kereta masih sangat jauh. Ini tidak hanya meminimalkan risiko pengaruh medan magnet, tetapi juga menjamin keselamatan pengemudi secara keseluruhan. Ia menekankan untuk selalu menjaga jarak aman dan tidak memaksakan diri melintas jika ada indikasi kereta listrik akan segera lewat.
Untuk jangka panjang, Agus menyarankan agar perlintasan sebidang pada jalur kereta listrik sebaiknya diminimalisir atau bahkan dihilangkan. Langkah ini dinilai efektif untuk mengurangi potensi interaksi elektromagnetik dan meningkatkan keamanan secara signifikan, sejalan dengan upaya modernisasi infrastruktur transportasi.
Sebelumnya, Kompol Sandhi Wiedyanoe dari Kasi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri telah mengonfirmasi bahwa insiden bermula dari masalah kelistrikan pada taksi Green SM di perlintasan Ampera. Kondisi ini menyebabkan taksi berhenti mendadak, mengganggu jadwal KRL dari arah berlawanan yang tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Ironisnya, di saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek melaju dengan kecepatan tinggi dan akhirnya menabrak KRL yang sedang menunggu, memicu kekacauan perjalanan kereta api.
Insiden ini menyoroti kompleksitas keselamatan di perlintasan kereta api, di mana faktor teknis kendaraan modern berinteraksi dengan infrastruktur perkeretaapian yang memiliki karakteristik unik, menuntut kewaspadaan ekstra dari semua pihak.






Tinggalkan komentar