Cerita.co.id melaporkan bahwa raksasa otomotif Inggris, Jaguar Land Rover (JLR), tengah bersiap melakukan pemangkasan besar-besaran terhadap sekitar 4.000 pekerjanya. Keputusan drastis ini diambil di tengah tekanan berat dari persaingan pabrikan Tiongkok, kebijakan tarif yang diberlakukan Amerika Serikat, serta tantangan transisi menuju era kendaraan listrik.
Pemangkasan karyawan yang diperkirakan akan berlangsung selama dua tahun ke depan ini mayoritas akan menyasar kantor pusat JLR di Inggris. Sumber internal perusahaan, seperti yang dikutip BBC, menyebutkan bahwa JLR kesulitan mempertahankan pangsa pasarnya. Tiongkok, yang semula dipandang sebagai pasar potensial untuk pertumbuhan, kini justru menjelma menjadi kompetitor tangguh yang menggerus penjualan mereka. Selain itu, kebijakan tarif impor yang digagas oleh mantan Presiden AS Donald Trump turut memberikan pukulan telak, terutama mengingat JLR tidak memiliki fasilitas produksi di Amerika Serikat.
Rentetan masalah yang mendera JLR semakin diperparah oleh insiden serangan siber yang terjadi tahun lalu. Serangan tersebut memaksa perusahaan untuk menghentikan operasional produksi selama lebih dari sebulan, menimbulkan kerugian signifikan. Dalam laporan kinerja keuangan tahun fiskal yang berakhir Maret, JLR secara eksplisit menyebutkan bahwa kombinasi tarif AS dan serangan siber adalah faktor utama di balik penurunan penjualan yang mencapai seperlima, dari sebelumnya £29 miliar menjadi £22,9 miliar.

Related Post
Menanggapi situasi sulit ini, CEO Jaguar Land Rover, PB Balaji, menegaskan komitmen perusahaan untuk mendukung semua pihak yang terdampak dengan penuh kepedulian, keadilan, dan rasa hormat sepanjang proses restrukturisasi ini. "Industri otomotif sedang menghadapi tantangan masif, mulai dari pergeseran teknologi di tengah persaingan yang kian ketat hingga ketidakpastian geopolitik yang terus membayangi," ujar Balaji, menggarisbawahi kompleksitas kondisi pasar saat ini.
JLR berupaya keras untuk melaksanakan program pengurangan karyawan ini melalui skema sukarela, dengan periode pendaftaran yang telah dibuka hingga 4 Oktober mendatang. Karyawan yang akan terdampak oleh kebijakan ini dijadwalkan menerima pemberitahuan resmi melalui email dalam beberapa hari ke depan. Langkah strategis ini merupakan bagian dari inisiatif perusahaan untuk menghemat biaya operasional hingga £1,7 miliar (sekitar Rp 33 triliun dengan kurs saat ini) dalam kurun waktu dua tahun ke depan.








Tinggalkan komentar