Cerita.co.id – Fenomena pengemudi ojek online (ojol) yang beralih ke motor listrik semakin menarik perhatian. Bukan sekadar mengikuti tren kendaraan ramah lingkungan, keputusan ini melibatkan perhitungan cermat antara efisiensi, biaya operasional, dan tantangan di lapangan. Edward Rudy Suryono, 59 tahun, dan Farhen Perdiansyah, dua pengemudi ojol yang mengandalkan Polytron Fox-R, membagikan pengalaman suka duka mereka dalam menaklukkan jalanan ibu kota dengan tenaga listrik.
Bagi Edward Rudy Suryono, motor listrik adalah pilihan logis setelah ia pensiun dari perusahaan farmasi pada tahun 2023 dan memutuskan untuk serius menjadi pengemudi ojol. Meski di rumah tersedia motor bensin seperti Vario dan Scoopy, Rudy yakin Fox-R jauh lebih efisien untuk aktivitas ngojolnya. Motor listriknya dibekali baterai berkapasitas sekitar 3,7 kWh, yang diklaim Polytron mampu menempuh jarak hingga 130 kilometer dengan kecepatan puncak 95 km/jam.
Namun, Rudy memiliki standar sendiri. Ia memilih untuk mengisi daya motornya setelah menempuh sekitar 100 kilometer, demi menghindari risiko kehabisan baterai di jalan. Proses pengisian penuh membutuhkan waktu sekitar empat jam di rumahnya. Durasi ini menjadi salah satu perbedaan mencolok dibandingkan motor bensin yang hanya butuh beberapa menit untuk mengisi bahan bakar.

Related Post
Kendati demikian, keunggulan motor listrik terletak pada biaya energi. Dengan tarif listrik rumah tangga sekitar Rp 1.445 per kWh, sekali pengisian penuh Fox-R secara teoritis hanya memakan biaya sekitar Rp 5.300. Angka ini jauh lebih hemat dibandingkan pengisian di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang bisa mencapai Rp 9.250. Penghematan signifikan ini tentu menjadi daya tarik utama bagi pengemudi yang setiap hari menempuh puluhan kilometer. Pengisian daya di rumah juga memungkinkan Rudy beristirahat tanpa harus mampir ke SPBU.
Pengalaman serupa dirasakan Farhen Perdiansyah, pengemudi ojol yang telah berkecimpung sejak 2017. Farhen, yang beralih menjadi ojol penuh waktu setelah pandemi menghantam pekerjaannya sebagai teknisi, memilih Fox-R bukan hanya karena efisiensi biaya. Ia tertarik pada ruang penyimpanan yang lega di antara kemudi dan jok, memungkinkan ia membawa barang berukuran besar seperti galon air mineral atau bahkan koper. Baginya, keuntungan terbesar adalah "tongpes" (tanpa uang sepeser pun) saat memulai hari, tanpa perlu mengkhawatirkan biaya bensin awal.
Baik Rudy maupun Farhen sama-sama memilih skema sewa baterai sekitar Rp 200 ribu per bulan. Skema ini memberikan ketenangan pikiran, karena jika baterai mengalami masalah atau kerusakan, mereka bisa langsung meminta penggantian kepada dealer.
Namun, motor listrik juga memiliki tantangan. Waktu pengisian baterai yang lama harus menjadi bagian dari perhitungan jadwal kerja. Rudy juga mencatat bahwa setelah sekitar enam bulan penggunaan, kenyamanan suspensi Fox-R mulai berkurang.
Di luar urusan biaya dan jarak tempuh, Rudy menemukan daya tarik lain pada fitur-fitur canggih Fox-R. Ia menunjukkan tombol mundur (reverse) yang memungkinkan motor bergerak perlahan ke belakang saat masih duduk di jok. Fitur cruise control juga menjadi favoritnya, memungkinkan motor melaju dengan kecepatan konstan tanpa perlu memegang tuas gas, yang bisa diatur hingga 25 km/jam.
Polytron Fox-R sendiri mulai dipasarkan pada tahun 2023 dengan harga OTR Jabodetabek sekitar Rp 20,5 juta. Setelah mendapat subsidi pemerintah sebesar Rp 7 juta, harganya menjadi sekitar Rp 13,5 juta, menjadikannya pilihan yang lebih terjangkau.
Bagi Rudy dan Farhen, motor listrik bukan sekadar kendaraan modern yang mengikuti tren. Ini adalah alat perjuangan yang telah dihitung untung ruginya, sebuah keputusan pragmatis untuk menafkahi keluarga di tengah kerasnya persaingan di jalanan. Mereka adalah bukti nyata bagaimana teknologi baru diadopsi dan diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.








Tinggalkan komentar