Cerita.co.id melaporkan gelombang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang signifikan, memicu perdebatan di tengah masyarakat. Penyesuaian harga ini, yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) dan BP, membuat beberapa jenis BBM menembus angka Rp 25 ribu per liter. Menanggapi hal ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa BBM yang mengalami kenaikan adalah produk untuk golongan masyarakat mampu, yang harganya memang mengikuti mekanisme pasar.
Berdasarkan pantauan Cerita.co.id dari laman resmi MyPertamina, kenaikan paling mencolok terlihat pada Pertamax Turbo. Bahan bakar dengan angka oktan (RON) 98 ini kini dibanderol Rp 19.400 per liter, melonjak Rp 6.300 dari harga sebelumnya Rp 13.100. Tak hanya itu, Dexlite juga mengalami lonjakan drastis, kini dijual Rp 23.600 per liter, naik Rp 9.400 dibandingkan bulan lalu. Sementara Pertamina Dex, jenis diesel berkualitas tinggi, kini mencapai Rp 23.900 per liter, dari sebelumnya Rp 14.500.

Kenaikan harga juga terjadi pada produk dari operator lain. BP misalnya, menyesuaikan harga Ultimate Diesel menjadi Rp 25.560 per liter, padahal sebelumnya hanya Rp 14.620. Angka ini menjadikannya salah satu BBM termahal di pasaran. Di sisi lain, pemerintah dan Pertamina tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite di angka Rp 10.000 per liter dan Solar Rp 6.800 per liter. Beberapa BBM non-subsidi lainnya, seperti Pertamax (Rp 12.300/liter) dan Pertamax Green (Rp 12.900/liter), juga tidak mengalami perubahan harga.

Related Post
Menjelaskan alasan di balik penyesuaian ini, Menteri Bahlil Lahadalia dalam keterangannya usai memberikan materi kepada peserta retret Ketua DPRD seluruh Indonesia di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Sabtu (18/4), menegaskan bahwa pemerintah hanya memiliki kewenangan untuk mengatur harga BBM bersubsidi. "Jadi kalau BBM itu kan, kalau untuk yang pemerintah atur adalah BBM bersubsidi. Sementara yang untuk industri (BBM non-subsidi), sesuai peraturan Menteri ESDM tahun 2022 itu mengikuti harga pasar," ujar Bahlil, seperti dikutip dari detikJateng.
Bahlil menambahkan, jenis BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo (RON 98) dan solar dengan CN 51 memang ditujukan bagi segmen masyarakat yang lebih mampu dan industri. "Jadi, Turbo itu kan untuk orang kaya. Orang-orang mampu semua. RON 98, kemudian solar yang CN 51 itu untuk orang mampu lah," pungkasnya, menggarisbawahi filosofi di balik penetapan harga yang mengikuti fluktuasi pasar global.








Tinggalkan komentar