Cerita.co.id – Pasar otomotif Indonesia kembali bergejolak. Setelah dominasi mobil listrik (EV) murah yang sempat menggerus segmen Low Cost Green Car (LCGC), kini angin perubahan berembus kencang. Berakhirnya insentif mobil listrik sejak Desember 2025, tanpa tanda-tanda perpanjangan, diprediksi akan mendongkrak harga kendaraan listrik secara signifikan. Pertanyaan besar pun mencuat: akankah LCGC kembali berjaya merebut tahtanya di hati konsumen Indonesia?
Di sela ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 6 Februari lalu, Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM), Jap Ernando Demily, menegaskan komitmen Toyota yang konsisten dan selalu berpegang pada prinsip kebutuhan konsumen. "Kami di Toyota selalu di-drive dari kustomer. Kenapa Toyota pakai multi-pathway? Karena kami yakin bahwa, satu kalau ingin melawan karbon, itu tanggung jawab setiap orang. Jadi bukan segmen tertentu," ungkap Ernando.

Ia menambahkan bahwa kebutuhan setiap konsumen sangat beragam. "Kebutuhan setiap kustomer itu berbeda-beda. Misal, kenapa Innova Reborn masih laku banget? Ya karena kustomer masih banyak yang mau, di Indonesia masih banyak kustomer butuh mesin diesel, masih butuh ground clearance. Sama, di Indonesia juga masih yang banyak perlu mobil LCGC," jelasnya, mengindikasikan bahwa segmen LCGC tetap memiliki pangsa pasar loyal.

Related Post
Toyota, lanjut Ernando, menyambut baik persaingan sehat, termasuk dengan serbuan mobil listrik dari produsen Tiongkok. Menurutnya, kompetisi yang sehat akan mendorong pertumbuhan pasar, industri, dan pada akhirnya, perekonomian negara. "Kalau kompetisinya sehat, marketnya tumbuh harusnya. Kalau marketnya tumbuh, industrinya tumbuh harusnya. Kalau industrinya tumbuh, negaranya juga tumbuh dan market otomotifnya tumbuh, sehingga semuanya bertumbuh. Itu yang kita harapkan," terangnya.
Menjawab potensi kebangkitan LCGC pasca-penghentian insentif EV, Ernando kembali menekankan fokus Toyota pada konsumen. "Jadi kalau ditanya (apakah mobil LCGC akan terdongkrak lagi gara-gara insentif mobil listrik disetop), bagi kami yang terpenting adalah, kustomer maunya apa? Itu yang kami coba provide, unit, services, after services, itu yang kita provide di Toyota secara ekosistem," tuturnya.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penurunan signifikan penjualan LCGC pada tahun 2025. Angka penjualan hanya mencapai 130.799 unit, anjlok 27% dibandingkan tahun 2024 yang masih mencatat 178.726 unit. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh gempuran mobil listrik murah asal Tiongkok yang dibanderol di bawah Rp 200 jutaan. Mobil listrik kala itu menawarkan keunggulan biaya operasional yang lebih rendah serta keistimewaan bebas ganjil genap, khususnya di Jakarta.
Namun, kondisi kini berbalik. Pengamat otomotif Bebin Djuana menyoroti perubahan persepsi terhadap LCGC. "Karena sekarang LCGC udah nggak murah-murah amat. Tidak seperti dulu waktu diperkenalkan. Nah sekarang udah ada EV harganya kira-kira ada di garisnya LCGC," ujar Bebin. Ia menambahkan, "Masyarakat kan tahu keseharian, biaya per kilometernya listrik kan sepertiga daripada beli bensin."
Dengan berakhirnya insentif, harga mobil listrik akan kembali ke harga normal, yang berpotensi menghilangkan daya tarik utama mereka di segmen harga terjangkau. Situasi ini membuka peluang emas bagi LCGC untuk kembali merebut pangsa pasar yang sempat tergerus, membuktikan bahwa kebutuhan akan kendaraan efisien dan terjangkau masih sangat relevan di tengah masyarakat Indonesia.









Tinggalkan komentar