Terobosan Baterai EV ASEAN

Terobosan Baterai EV ASEAN

Cerita.co.id melaporkan bahwa Indonesia dan Malaysia kini bersatu dalam sebuah inisiatif ambisius untuk memajukan industri kendaraan listrik regional. Kolaborasi strategis ini berfokus pada pengembangan baterai mobil listrik yang diberi nama ‘Baterai Nusantara’. Profesor Evvy Kartini, seorang pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus pendiri National Battery Research Institute (NBRI), menegaskan bahwa proyek ini merupakan upaya krusial untuk membangun kemandirian kapabilitas industri baterai di seluruh kawasan ASEAN.

Dalam kemitraan ini, kedua negara memainkan peran yang saling melengkapi. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alamnya, diidentifikasi memiliki potensi besar dalam menyediakan material baterai, khususnya untuk pengembangan katoda. Di sisi lain, Malaysia menawarkan fasilitas pilot yang mumpuni, siap dimanfaatkan untuk proses produksi sel baterai. Mengutip pernyataan Evvy yang dilansir Antaranews pada Kamis (27/8), "Indonesia memiliki potensi untuk berkontribusi dari sisi material baterai, khususnya pengembangan katoda. Sementara itu, Malaysia memiliki fasilitas pilot yang dapat digunakan untuk memproduksi sel baterai."

Terobosan Baterai EV ASEAN
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Mekanisme kerja sama ini cukup jelas: material yang dikembangkan di Indonesia akan dikirimkan ke Malaysia untuk kemudian diproses menjadi sel baterai. Produk awal dari kolaborasi ini bahkan telah diperkenalkan di Malaysia, mendapat sambutan positif dari kementerian terkait. Lebih dari sekadar mengejar target produksi, Evvy menekankan bahwa tujuan jangka panjang proyek ini adalah membangun rantai pasok baterai yang terintegrasi di seluruh ASEAN. Ini adalah langkah konkret menuju kemandirian, agar kawasan ini tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar. "Kita juga ingin mencoba bagaimana di ASEAN ini tidak tergantung juga. Jadi punya baterai ASEAN sendiri," jelasnya.

COLLABMEDIANET

Potensi pasar kendaraan listrik di ASEAN yang sangat besar menjadi alasan kuat mengapa kawasan ini ideal sebagai basis pengembangan teknologi baterai regional. Namun, Evvy mengakui bahwa kapabilitas riset dan produksi di masing-masing negara anggota masih memerlukan penguatan signifikan. Salah satu prioritas utama adalah pembangunan fasilitas pilot plant di Indonesia. Fasilitas ini krusial sebagai jembatan antara hasil riset material di laboratorium dengan produksi baterai skala komersial.

Menurut Evvy, pembangunan pilot plant tidak harus langsung berskala gigawatt-hour. Yang terpenting adalah kemampuan untuk menguji dan memvalidasi teknologi yang telah dikembangkan di laboratorium dalam skala yang lebih besar sebelum memasuki tahap industrialisasi massal. Kolaborasi ‘Baterai Nusantara’ antara Indonesia dan Malaysia ini diharapkan menjadi fondasi awal bagi terwujudnya ekosistem baterai yang kokoh di ASEAN. Dengan menyatukan kekuatan riset, material, fasilitas produksi, dan pasar regional, ASEAN berambisi tidak hanya menjadi pusat produksi kendaraan listrik, tetapi juga mampu secara mandiri mengembangkan teknologi baterainya sendiri.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar