Cerita.co.id, Jakarta – Kendaraan bermesin diesel telah lama dikenal akan ketangguhan dan durabilitasnya yang luar biasa, menjadikannya pilihan favorit banyak pengendara untuk penggunaan jangka panjang. Namun, di balik reputasi kokoh tersebut, ada satu kelemahan krusial yang kerap mengintai: pembentukan kerak atau jelaga di ruang mesin, terutama akibat penggunaan bahan bakar solar. Fenomena ini menjadi musuh utama yang wajib dipahami setiap pemilik mobil diesel.
Menurut Mulianto, seorang Senior Analys PCO & Specialties di PT Pertamina Lubricants, performa optimal dan umur panjang mesin diesel hingga ratusan ribu kilometer bukanlah suatu kebetulan, melainkan buah dari perawatan yang konsisten dan tepat. Ia menegaskan bahwa "musuh bebuyutan" utama bagi oli diesel adalah jelaga atau soot yang terbentuk di ruang bakar. Oleh karena itu, salah satu fungsi vital pelumas mesin diesel adalah sebagai pengikat partikel jelaga sisa pembakaran, mencegahnya menempel pada dinding mesin. Inilah alasan mengapa oli diesel cenderung menghitam lebih cepat.
Mulianto lebih lanjut menekankan pentingnya pemilihan spesifikasi pelumas yang tepat. Di pasaran, tersedia dua jenis utama oli untuk mesin diesel: mineral dan sintetis. Oli mineral umumnya memiliki batas pakai hingga 5.000 kilometer, sementara oli sintetis menawarkan durasi penggunaan yang lebih panjang, mencapai 7.500 hingga 10.000 kilometer. Keunggulan oli sintetis terletak pada kemampuannya meredam panas ekstrem mesin secara lebih efektif dibandingkan oli mineral. Pelumas mineral disarankan untuk mesin diesel konvensional tanpa turbocharger, sedangkan oli sintetis sangat direkomendasikan untuk mesin diesel modern yang dilengkapi turbo serta generasi terbaru.

Related Post
Selain peran vital pelumas, kualitas bahan bakar juga memegang peranan krusial dalam menjaga kesehatan mesin diesel. Mulianto menjelaskan, penggunaan solar dengan Angka Setana (Cetane Number) tinggi, seperti CN53, akan menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna di ruang mesin, secara signifikan mengurangi pembentukan jelaga. Hal ini tidak hanya membuat suara mesin lebih halus dan akselerasi lebih responsif, tetapi juga menjamin kandungan sulfur yang rendah. Rendahnya sulfur sangat penting untuk menjaga komponen mesin tetap bersih dan bebas dari penyumbatan.
Sebaliknya, penggunaan solar dengan Angka Setana rendah, semisal CN51, membawa risiko yang berbeda. Bahan bakar jenis ini umumnya memiliki kandungan sulfur tinggi dan minim aditif, yang berpotensi menyebabkan fenomena knocking atau ‘ngelitik’ pada mesin. Akibatnya, tenaga mesin menjadi loyo dan emisi asap knalpot cenderung lebih tebal, menandakan pembakaran yang tidak optimal dan lebih banyak residu.
Maka dari itu, Mulianto menyimpulkan bahwa kombinasi antara penggunaan bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi mesin dan penggantian oli berdasarkan rekomendasi pabrikan adalah kunci utama. Sinergi kedua faktor ini tidak hanya akan menjaga performa mesin diesel tetap prima sepanjang masa pakainya, tetapi juga berkontribusi pada efisiensi konsumsi bahan bakar yang optimal.








Tinggalkan komentar