Cerita.co.id – Pebalap tangguh asal Italia, Luca Marini, tengah berada di tanah air untuk mempersiapkan diri menghadapi seri balapan bergengsi di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Namun, sebelum fokus sepenuhnya pada deru mesin dan aspal lintasan, pembalap tim Honda ini justru merasa "terguncang" oleh budaya kuliner Indonesia yang sangat unik.
Dalam sebuah acara temu sapa atau Meet and Greet yang berlangsung meriah di kawasan Alam Sutera, Tangerang, pada Selasa malam, Marini berbagi pengalaman menariknya selama menginjakkan kaki di Indonesia. Alih-alih membahas strategi balap, ia justru menyoroti kebiasaan masyarakat lokal dalam mengolah makanan yang menurutnya sangat tidak biasa jika dibandingkan dengan standar di Eropa.
Salah satu hal yang paling mencuri perhatian Marini adalah kecenderungan masyarakat Indonesia yang sangat gemar menyajikan makanan dengan teknik digoreng. Menurut adik dari legenda MotoGP, Valentino Rossi tersebut, hampir semua jenis bahan makanan di Indonesia berakhir di dalam penggorengan.

Related Post
"Kalian sangat suka menggoreng semua makanan. Mulai dari hidangan laut (seafood) hingga ayam, semuanya digoreng. Tapi ya, tidak apa-apa, saya tetap menikmatinya," ujar Marini dengan nada bercanda di hadapan para penggemar yang hadir.
Tak hanya soal teknik memasak, Marini juga merasa takjub dengan ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap nasi. Baginya, nasi seolah menjadi elemen wajib yang harus ada dalam setiap sesi makan, apa pun jenis lauk pauknya. Ia mencatat bahwa selama perjalanannya dari negara Barat menuju Asia, ia sangat mudah menemukan nasi di mana saja. "Benar sekali, kalian selalu menyantap apa pun dengan nasi," tambahnya.
Kejutan budaya tidak berhenti di situ. Marini mengaku sempat kewalahan menghadapi level kepedasan makanan di Indonesia. Sebagai orang Eropa yang terbiasa dengan cita rasa yang cenderung lembut dan tidak terlalu tajam, ia merasa skala pedas di Indonesia sudah berada di level yang "keterlaluan". Meski ia tidak hafal dengan nama-nama spesifik hidangan pedas tersebut, ia mengakui bahwa sensasi terbakar di lidah adalah pengalaman yang sangat berbeda baginya.
Meski sempat dibuat terheran-heran oleh urusan perut, Marini mengaku sangat antusias untuk segera memacu kendaraannya di Sirkuit Mandalika. Ia memiliki ikatan emosional yang kuat dengan lintasan tepi laut tersebut. Baginya, Mandalika bukan sekadar sirkuit biasa, melainkan tempat di mana ia bisa merasakan atmosfer balap yang sangat spesial.
"Mandalika adalah salah satu sirkuit favorit saya. Terutama di sektor dua, di mana saya bisa melihat pemandangan laut yang indah. Hal itu membuat pengalaman balapan terasa sangat istimewa," ungkap pembalap berusia 29 tahun tersebut.
Marini juga merasa memiliki keunggulan tersendiri saat membalap di kondisi cuaca panas seperti di Indonesia. Ia mengaku sangat menyukai karakter tikungan di Mandalika yang menantang, yang membuatnya selalu bisa tampil kencang. Mengingat performa impresifnya musim lalu yang berhasil finis di posisi kelima, publik kini menantikan apakah ia mampu kembali memberikan kejutan di lintasan Mandalika akhir pekan ini.









Tinggalkan komentar