Cerita.co.id melaporkan, nilai tukar Rupiah yang terus tertekan hingga menyentuh level Rp18.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran akan lonjakan harga barang-barang ritel. Kenaikan ini terutama akan terasa pada produk yang mengandalkan bahan baku impor, yang berpotensi memberatkan kantong konsumen.
Suantopo Po, Direktur Keuangan PT Midi Utama Indonesia Tbk (Alfamidi), mengungkapkan bahwa kondisi pelemahan mata uang ini berpotensi besar meningkatkan biaya produksi. "Ya, memang kita ketahui bahwa hari ini mungkin dolar itu sudah Rp18.000 ya. Tentu saja banyak produk yang menggunakan komponen impor, pasti akan mengalami kenaikan harga," ujarnya dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar di Alfa Tower, Alam Sutera, Tangerang, Kamis (4/6/2026).

Ia mencontohkan beberapa komoditas vital seperti susu, kacang hijau, dan kedelai, yang mayoritas pasokannya masih didatangkan dari luar negeri. Ketergantungan pada impor ini membuat harga produk olahan dari bahan-bahan tersebut sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar Rupiah. Jika biaya bahan baku impor melonjak, harga jual produk akhir di minimarket dan toko ritel lainnya pun tak terhindarkan akan ikut terkerek naik.

Related Post
Suantopo menambahkan bahwa penyesuaian harga di tingkat ritel akan sepenuhnya mengikuti kebijakan dari pemasok atau prinsipal. Apabila produsen memutuskan untuk menaikkan harga jual mereka akibat peningkatan biaya produksi, maka Alfamidi dan jaringan ritel lainnya akan turut menyesuaikan harga di rak-rak penjualan. Ini berarti konsumen harus bersiap menghadapi potensi harga yang lebih tinggi untuk kebutuhan sehari-hari di tengah tekanan ekonomi akibat pelemahan Rupiah.









Tinggalkan komentar