Wuling Buka Syarat Nikel Lokal

Wuling Buka Syarat Nikel Lokal

Cerita.co.id melaporkan, pabrikan mobil listrik Wuling angkat bicara mengenai potensi pemanfaatan nikel Indonesia untuk baterai kendaraan listriknya. Meskipun saat ini Wuling masih mengandalkan teknologi baterai lithium iron phosphate (LFP) yang bebas nikel, Wakil Presiden SAIC-GM-Wuling (SGMW), Han Dehong, menegaskan bahwa penggunaan nikel lokal sangat bergantung pada kesiapan ekosistem industri baterai di Tanah Air.

Dehong menjelaskan, keputusan untuk mengintegrasikan nikel Indonesia ke dalam produksi baterai untuk pasar lokal memerlukan diskusi mendalam dengan mitra strategis Wuling seperti CATL, Gotion, dan Tsingshan. "Sekarang nikel digunakan secara luas. Di China kita sudah menggunakan nikel dari Indonesia," ungkap Dehong. Namun, untuk implementasi di Indonesia, ia menekankan pentingnya peran mitra ekosistem dalam membangun fondasi industri yang kuat terlebih dahulu.

Wuling Buka Syarat Nikel Lokal
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Saat ini, Wuling memang dikenal menggunakan baterai berteknologi LFP untuk produk kendaraan listriknya. Kendati demikian, PT SGMW Motor Indonesia (Wuling) telah berinvestasi signifikan dengan memproduksi battery pack di fasilitas pabriknya di Cikarang, Jawa Barat. Pabrik perakitan baterai lokal ini menelan investasi sekitar Rp 87 miliar, menunjukkan komitmen Wuling terhadap lokalisasi komponen.

COLLABMEDIANET

Dorongan untuk pemanfaatan nikel Indonesia juga datang dari pemerintah. Indonesia sedang menyiapkan skema insentif baru yang menarik bagi kendaraan listrik berbasis baterai nikel. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa besaran insentif akan bervariasi, dengan kendaraan listrik yang menggunakan baterai nikel berpotensi mendapatkan insentif lebih besar, bahkan hingga 100 persen Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN-DTP). Sementara itu, kendaraan dengan baterai non-nikel seperti LFP diperkirakan hanya akan mendapat sekitar 40 persen PPN-DTP.

Namun, realisasi insentif ini menghadapi tantangan. Skema yang semula ditargetkan berlaku pada Juni 2026, telah mengalami penundaan berulang kali. Setelah mundur ke Juli, kini implementasinya kembali ditargetkan paling cepat Agustus 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa skema tersebut masih dalam tahap pengkajian intensif, dengan sejumlah perhitungan teknis yang belum sepenuhnya final.

Situasi ini menyoroti dinamika antara ambisi pemerintah untuk mendorong industri nikel lokal dan strategi global pabrikan otomotif seperti Wuling. Kesiapan ekosistem industri baterai, dukungan dari mitra global, serta finalisasi kebijakan insentif pemerintah akan menjadi kunci utama dalam menentukan kapan nikel Indonesia benar-benar akan menjadi tulang punggung baterai kendaraan listrik di pasar domestik.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar