Solusi Listrik ASEAN Lewat Surya dan Baterai

Solusi Listrik ASEAN Lewat Surya dan Baterai

Cerita.co.id – Kebutuhan energi listrik di kawasan Asia Tenggara tengah mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Fenomena ini menciptakan tantangan baru bagi negara-negara di kawasan tersebut, mengingat laju pertumbuhan permintaan listrik bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kecepatan pembangunan infrastruktur transmisi listrik terpusat. Jika tidak segera diantisipasi, kesenjangan ini berisiko menghambat pertumbuhan ekonomi dan stabilitas energi di masa depan.

Menanggapi situasi kritis tersebut, para ahli dan pemangku kepentingan mulai melirik solusi alternatif yang lebih fleksibel. Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terdistribusi yang dipadukan dengan teknologi penyimpanan energi berbasis baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) kini dianggap sebagai kunci utama untuk menjaga keseimbangan pasokan listrik.

Solusi Listrik ASEAN Lewat Surya dan Baterai
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Persoalan mendesak ini menjadi topik utama dalam forum internasional bertajuk Distributed Power Generation and Battery Energy Storage. Acara tersebut diselenggarakan oleh Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bekerja sama dengan Tenggara Strategics di tengah perhelatan Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026 yang berlangsung di Movenpick BDMS, Bangkok. Forum ini bertujuan untuk merumuskan langkah strategis guna mempercepat transisi energi hijau di seluruh Asia Tenggara.

COLLABMEDIANET

Dalam diskusi tersebut, terungkap sebuah fakta menarik mengenai dinamika transisi energi saat ini. Jika dahulu kendala utama dalam pengembangan energi terbarukan adalah tingginya biaya teknologi, kini situasinya telah berubah. Harga teknologi panel surya yang semakin kompetitif membuat biaya bukan lagi menjadi penghalang utama. Tantangan terbesar saat ini justru terletak pada kesiapan sistem kelistrikan nasional dalam menyerap, menyimpan, serta menyalurkan energi yang dihasilkan secara efisien dan stabil.

Sebagai solusi teknis, kombinasi antara penggunaan PLTS atap, pembangkit surya untuk sektor komersial, serta pengembangan jaringan listrik mini (microgrid) yang dilengkapi dengan sistem baterai (BESS) dinilai sangat menjanjikan. Keunggulan utama dari sistem ini adalah sifatnya yang modular. Artinya, infrastruktur ini dapat dibangun dan dikembangkan secara bertahap dengan waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan harus membangun pembangkit listrik skala besar atau memperpanjang kabel transmisi antarprovinsi yang memakan waktu bertahun-tahun.

Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari, menekankan bahwa transisi energi tidak boleh hanya fokus pada aspek teknis semata, tetapi juga harus menyentuh aspek inklusi sosial dan ketahanan energi. Di Indonesia sendiri, ambisi besar telah dicanangkan melalui target kapasitas energi surya sebesar 100 gigawatt peak (GWp).

"Semangat dari target 100GWp ini adalah untuk mewujudkan inklusi sosial dan memperkuat ketahanan energi, termasuk melalui program elektrifikasi hingga ke pelosok desa," ungkap Mada dalam keterangan resminya.

Lebih lanjut, Mada menjelaskan bahwa banyak desa terpencil di Indonesia yang mata pencahariannya sangat bergantung pada sektor pertanian dan perikanan. Dengan menghadirkan PLTS, masyarakat desa tidak hanya mendapatkan akses cahaya, tetapi juga energi untuk mendukung kegiatan produktif mereka. Hal ini diharapkan dapat menjadi mesin penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Meski peluang terbuka lebar, Mada juga mengingatkan bahwa negara-negara di Asia Tenggara menghadapi tantangan serupa dalam pengembangan energi terbarukan. Masalah regulasi yang belum sinkron, kerumitan proses perizinan, hingga struktur kontrak proyek yang masih perlu diperbaiki menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah di kawasan ini agar transisi energi dapat berjalan mulus.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar