Bahaya Ban Botak Demi Hemat Uang

Bahaya Ban Botak Demi Hemat Uang

Cerita.co.id – Fenomena penurunan daya beli masyarakat kini mulai memberikan dampak nyata pada berbagai sektor industri, tidak terkecuali pada industri komponen otomotif. Salah satu tren yang cukup mengkhawatirkan adalah perilaku pemilik kendaraan yang mulai menunda penggantian ban, meskipun kondisi fisik ban tersebut sudah sangat tidak layak dan membahayakan keselamatan berkendara.

Presiden Direktur PT Bridgestone Tire Indonesia, Mukiat Sutikno, mengungkapkan bahwa dinamika pasar ban mengalami perubahan yang cukup signifikan. Jika menilik data pada semester pertama tahun 2026, pasar ban sebenarnya masih menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sekitar empat persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh momentum libur Lebaran yang memicu masyarakat untuk lebih banyak melakukan perjalanan atau traveling.

Bahaya Ban Botak Demi Hemat Uang
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Namun, optimisme tersebut mulai meredup saat memasuki paruh kedua tahun 2026. Sejak bulan Juli hingga September, pasar mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan atau slow down. Menurut Mukiat, hal ini merupakan dampak dari faktor musiman yang terjadi setiap tahunnya.

COLLABMEDIANET

"Di semester kedua ini, kita menghadapi faktor musiman di mana bulan Juni hingga Juli bertepatan dengan masa libur sekolah dan tahun ajaran baru. Pada periode ini, pengeluaran masyarakat tersedot untuk kebutuhan pendidikan anak, seperti biaya sekolah dan buku, sehingga secara keseluruhan daya beli ekonomi menurun," jelas Mukiat saat ditemui di kawasan PIK2, Jakarta.

Selain faktor domestik, ketidakpastian ekonomi global juga turut memberikan tekanan. Meski Indonesia tidak terlibat langsung dalam berbagai konflik geopolitik yang sedang terjadi, dampak ekonomi dari situasi global tersebut tetap terasa dan memengaruhi kantong masyarakat.

Kondisi ekonomi yang menantang ini mengubah perilaku konsumen secara drastis. Pemilik mobil kini cenderung memperpanjang masa pakai ban mereka demi menghemat pengeluaran. Hal yang mengejutkan adalah fenomena ini tidak hanya terjadi pada pemilik mobil kelas ekonomi, tetapi juga merambah ke pemilik mobil premium.

Mukiat menceritakan pengalamannya saat mengunjungi salah satu toko ban. Ia menemukan sebuah kendaraan dengan kondisi ban yang sudah sangat aus hingga kawat besinya terlihat jelas. Padahal, ban merupakan komponen paling krusial karena menjadi satu-satunya titik kontak antara kendaraan dengan permukaan jalan.

"Saya sempat tidak percaya saat melihat kondisi bannya yang sangat botak hingga kawatnya keluar. Mekanik di sana bercerita bahwa pemiliknya sudah diperingatkan, namun mereka meminta waktu satu atau dua bulan lagi. Nyatanya, setelah tiga atau empat bulan, mereka baru kembali," ungkapnya dengan nada prihatin.

Situasi ini tentu sangat berisiko tinggi. Ban yang sudah botak akan kehilangan kemampuan cengkeramannya terhadap jalan, terutama saat kondisi jalanan licin atau saat melakukan pengereman mendadak. Menunda penggantian ban demi penghematan jangka pendek justru dapat berujung pada kecelakaan fatal yang merugikan secara materi maupun nyawa. Masyarakat diharapkan tetap mengutamakan keselamatan dengan tidak mengabaikan peringatan dari mekanik bengkel terkait kondisi komponen vital kendaraan mereka.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar