Pejabat Berpose di Tikungan Maut

Pejabat Berpose di Tikungan Maut

Cerita.co.id melaporkan, jagat maya kembali diramaikan dengan sebuah video viral yang memperlihatkan rombongan mobil mewah diduga berisi pejabat tiba-tiba berhenti di lokasi ekstrem, tikungan-tanjakan Sitinjau Lauik, Sumatera Barat. Konvoi ini, yang dikawal ketat oleh mobil patwal polisi lengkap dengan sirene dan strobo yang meraung-raung, tampak berhenti hanya untuk sesi foto-foto.

Dalam rekaman yang beredar luas, terlihat beberapa unit kendaraan seperti Toyota Fortuner dan Kijang Innova, yang menjadi bagian dari rombongan, menghentikan laju di tengah jalur menanjak dan menikung tajam tersebut. Penumpang dari mobil-mobil itu kemudian turun, berpose santai di lokasi yang dikenal rawan kecelakaan, sementara antrean panjang truk-truk besar terlihat menumpuk di kedua arah, menunggu rombongan ini menyelesaikan aksinya.

Pejabat Berpose di Tikungan Maut
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Belakangan terungkap, rombongan yang menjadi sorotan publik ini diduga adalah eks anggota DPR, Arteria Dahlan. Direktur Lalu Lintas Polda Sumatera Barat, Kombes M Reza Chairul, membenarkan kejadian tersebut. Menurut Reza, peristiwa itu terjadi saat rombongan Arteria Dahlan sedang dalam perjalanan untuk kegiatan di wilayah Solok Kota. Ia sempat menyebut bahwa di lokasi tersebut memang biasa ada pengemudi yang berhenti untuk membantu warga mengatur lalu lintas.

COLLABMEDIANET

Namun, Reza menegaskan bahwa pihaknya tidak membenarkan tindakan tersebut. Ia mengaku telah memberikan teguran keras kepada jajaran kepolisian Polres Solok Kota yang bertugas mengawal rombongan. "Iya itu yang mengawal dari Satlantas Polres Solok Kota. Sudah saya tegur Kapolres dan Kasatlantasnya," ujar Reza.

Insiden ini kembali memantik perdebatan mengenai penggunaan strobo dan sirene oleh kendaraan sipil yang dikawal. Padahal, beberapa waktu lalu, Korlantas Polri sempat mengeluarkan kebijakan pembekuan penggunaan alat penanda darurat tersebut. Namun, kenyataannya, fenomena penggunaan strobo dan sirene justru kian marak di jalanan.

Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDC), Sony Susmana, menyayangkan kondisi ini. Menurut Sony, pembatasan strobo dan sirene hanya "lip service" di awal saja. "Makin ke sini orang juga udah pada lupa. Seminggu tiga kali saya ke Bekasi lewat tol, dalam satu jam perjalanan, pasti ada mobil yang melintas yang pakai strobo 3-4 unit. Pendapat saya, adabnya pada masih rendah karena budaya dan hukum tidak terbangun dengan benar," kritik Sony, seperti dikutip Cerita.co.id.

Sony juga menekankan bahwa fungsi petugas polisi yang melakukan pengawalan seharusnya tidak hanya mengawal, tetapi juga mengingatkan akan bahaya. "Fungsi petugas Polisi tersebut tidak hanya ngawal tapi mengingatkan, melakukan tindakan yang menyelamatkan bukan menormalisasi atau memfasilitasi bahaya, sekalipun punya hak diskresi. Apa pun misinya, nggak sepantasnya sekelas pejabat juga ngasih contoh yang tidak baik kepada masyarakat," tegas Sony, mengingatkan pentingnya etika dan keselamatan di jalan raya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar