EV Indonesia Siap Tancap Gas

EV Indonesia Siap Tancap Gas

Cerita.co.id, Jakarta – Lanskap pasar kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) di Indonesia kini telah mencapai titik kematangan yang signifikan. Kondisi ini memicu seruan agar arah kebijakan insentif pemerintah bergeser, dari sekadar memacu adopsi pasar menjadi memperkokoh fondasi industri otomotif nasional secara menyeluruh. Pandangan strategis ini diungkapkan oleh Riyanto, seorang Peneliti Senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI).

Berbicara dalam Seminar GIIAS 2026 bertajuk "Mengkaji Ulang Peta Jalan Industri Otomotif Nasional" di ICE BSD City, Tangerang, Riyanto menegaskan bahwa pangsa pasar BEV di Tanah Air telah melampaui ambang batas krusial, mencapai angka 16%. "Kita sudah lewat 10%, sekarang 16%. Ini sudah melewati tipping point, sudah masuk jalur pasar," jelasnya. Menurut Riyanto, dengan dinamika pasar yang sudah terbentuk, pertumbuhan sektor ini dapat berlanjut secara alami tanpa perlu intervensi insentif yang berlebihan untuk sekadar menciptakan permintaan.

EV Indonesia Siap Tancap Gas
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Oleh karena itu, arah kebijakan insentif pemerintah harus direorientasi. Jika sebelumnya insentif difokuskan untuk mendorong pembelian dan adopsi kendaraan listrik oleh masyarakat, kini prioritas utama adalah memperkuat ekosistem industri pendukung di dalam negeri. "Kita harus bergeser, memberikan insentif dengan mengarahkan bagaimana pendalaman industrinya. Ini menjadi poin paling esensial," tegas Riyanto, menyoroti pentingnya pengembangan manufaktur dan komponen lokal.

COLLABMEDIANET

Urgensi pergeseran fokus ini didasari proyeksi peningkatan permintaan kendaraan listrik yang masif, baik di kancah domestik maupun global. Dengan prediksi pasar EV dunia yang akan mencapai lebih dari 50%, Indonesia wajib memiliki daya saing industri elektrifikasi yang kuat. Riyanto menekankan, transformasi ini berarti beralih dari sekadar memikirkan keterjangkauan harga konsumen menjadi penguatan kemampuan manufaktur dan pendalaman industri komponen, sebagaimana yang telah dicapai oleh industri kendaraan konvensional (ICE).

Sejalan dengan wacana strategis ini, pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, sebelumnya telah mengisyaratkan adanya paket insentif baru yang akan segera diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Insentif ini, yang ditujukan untuk memacu adopsi 500 ribu unit mobil dan motor listrik, diharapkan menjadi langkah konkret dalam mendukung pertumbuhan sektor ini.

Dalam Gaikindo International Automotive Conference (GIAC), Purbaya menjelaskan bahwa skema insentif tersebut kemungkinan besar akan mencakup penanggungan 100% Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) oleh pemerintah untuk jenis kendaraan listrik tertentu, serta 40% untuk kategori lainnya. Meski rincian skema masih dalam tahap finalisasi dan akan diumumkan langsung oleh Presiden, Purbaya membocorkan bahwa jenis baterai yang digunakan (berbasis nikel atau litium) akan menjadi salah satu faktor penentu besaran insentif.

Pergeseran fokus insentif ini menandai babak baru dalam peta jalan industri otomotif nasional, di mana Indonesia tidak hanya ingin menjadi pasar, melainkan juga pemain kunci dalam rantai produksi kendaraan listrik global.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar