Cerita.co.id – Upaya menjaga stabilitas ketahanan pangan nasional kini memasuki babak baru dengan penguatan pengawasan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Fokus utama saat ini tertuju pada wilayah Kalimantan Tengah, yang diproyeksikan menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung program swasembada pangan pemerintah. Mengingat peran krusial wilayah tersebut, langkah-langkah preventif dan penanganan kebakaran kini dipercepat guna memastikan kawasan produktif tetap aman dari ancaman api.
Kementerian Koordinator Bidang Pangan mengambil langkah strategis dengan melakukan sinkronisasi lintas sektor di Kalimantan Tengah. Langkah ini merupakan implementasi nyata dari Instruksi Presiden Nomor 11 Tahun 2026 yang menekankan pada penguatan penegakan larangan pembukaan lahan dengan cara membakar serta pengendalian karhutla yang lebih ketat. Sinergi ini melibatkan berbagai elemen, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga sektor swasta.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa pengendalian karhutla di Kalimantan Tengah bukan sekadar urusan lingkungan, melainkan urusan kedaulatan pangan. Jika kebakaran tidak terkendali, dampaknya akan langsung memukul produktivitas lahan pertanian dan mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat. Saat memimpin apel bersama tim gabungan di Palangka Raya, Hanif menekankan pentingnya antisipasi dini agar dampak kebakaran tidak meluas ke area penopang pangan.

Related Post
Salah satu strategi yang kini diterapkan adalah pendekatan zonasi berbasis lanskap. Pemerintah memprioritaskan pengamanan di wilayah ring satu, terutama kawasan yang berbatasan langsung dengan bandar udara di Palangka Raya. Model zonasi ini diharapkan menjadi percontohan yang dapat direplikasi di berbagai wilayah lain di Kalimantan Tengah untuk mempercepat mobilisasi tim saat terjadi titik api.
Dalam teknis di lapangan, kekuatan pemadaman di Palangka Raya melibatkan sedikitnya 175 regu pemadam. Kekuatan besar ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah provinsi dengan berbagai pihak, termasuk Manggala Agni, relawan masyarakat, hingga pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki).
Untuk memastikan efektivitas, regu-regu pemadam telah ditempatkan di zona-zona strategis yang dekat dengan sumber air, seperti sumur bor yang telah disiapkan. Hal ini dilakukan agar proses pemadaman dapat dilakukan secara cepat dan menjangkau wilayah yang terdampak lebih luas.
Meski curah hujan mulai turun, Hanif mengingatkan agar seluruh pihak tidak lengah. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pola hujan normal diperkirakan baru akan stabil pada akhir November mendatang. Oleh karena itu, penguatan personel di lapangan tetap menjadi prioritas utama.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal APHI, Purwadi Soeprihanto, menyatakan komitmen penuh dunia usaha untuk mendukung pemerintah. Pihaknya memastikan bahwa perusahaan-perusahaan anggota APHI akan terus berkolaborasi secara aktif dalam upaya penuntasan karhutla demi menjaga kelestarian lingkungan dan keberlangsungan sektor pangan di Kalimantan Tengah. Informasi lengkap mengenai perkembangan ini dapat terus dipantau melalui cerita.co.id.









Tinggalkan komentar