Cerita.co.id melaporkan bahwa nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan, menutup perdagangan Kamis (21/5/2026) pada level Rp17.667 per dolar AS. Penurunan sebesar 13,5 poin atau sekitar 0,08 persen ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan kebijakan moneter yang ketat, menciptakan tekanan berat bagi mata uang Garuda.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai konflik Iran. Trump mengklaim perang berada di "tahap akhir," namun di sisi lain mengancam akan adanya aksi militer lebih lanjut jika kesepakatan tidak tercapai. Ketidakpastian ini membatasi optimisme pasar secara luas dan menjaga harga minyak tetap tinggi, meskipun sempat mengalami penurunan tajam di awal pekan. "Selat Hormuz sebagian besar tetap tertutup, sehingga harga minyak relatif tetap tinggi meskipun terjadi penurunan tajam awal pekan ini," tulis Ibrahim dalam risetnya yang dikutip Cerita.co.id.

Iran sendiri memperingatkan terhadap serangan lebih lanjut dan mengambil langkah konkret untuk memperkuat kendalinya atas Selat Hormuz. Jalur air vital ini, yang sebelum konflik mengangkut sekitar 20 persen konsumsi minyak dan gas alam global, kini sebagian besar telah ditutup. Pada Rabu lalu, Iran mengumumkan pembentukan "Otoritas Selat Teluk Persia" yang baru, menandakan adanya "zona maritim terkontrol" di wilayah tersebut. Penutupan efektif selat ini oleh Iran merupakan balasan atas serangan AS dan Israel yang memicu perang pada 28 Februari. Sementara Iran membatasi lalu lintas di Hormuz, AS membalas dengan memblokade garis pantai Iran. Kekhawatiran akan menipisnya cadangan komersial dan strategis global semakin meningkat akibat terhentinya pasokan dari wilayah Timur Tengah yang krusial ini.

Related Post
Selain ketegangan geopolitik, risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan April juga turut membebani rupiah. Mayoritas pejabat Federal Reserve (Fed) mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi terus melampaui target 2 persen mereka. Prospek kenaikan suku bunga AS ini cenderung memperkuat dolar, sehingga menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah.









Tinggalkan komentar