Cerita.co.id melaporkan bahwa nilai tukar rupiah menunjukkan performa impresif pada penutupan perdagangan Kamis (23/9/2026). Mata uang Garuda ini berhasil menguat 84 poin atau sekitar 0,47 persen, mencapai level Rp17.679 per dolar AS. Penguatan signifikan ini didorong oleh sejumlah sentimen, baik dari ranah global maupun data ekonomi Amerika Serikat yang memberikan tekanan pada mata uang Paman Sam.
Menurut analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, salah satu pemicu utama datang dari kekhawatiran global akan eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini berpotensi mengganggu pasokan minyak dari Timur Tengah. Ibrahim menjelaskan, "Pasukan AS menyerang wilayah pesisir selatan Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang posisi-posisi AS di berbagai wilayah kawasan tersebut; ini merupakan aksi saling serang paling intens antara kedua negara sejak bulan Juli." Namun, pasar sedikit lega setelah Presiden Trump menyatakan bahwa kampanye baru AS terhadap Iran tidak akan berlangsung lama, sekaligus menyebutkan target serangan AS pada radar, sistem rudal, dan kemampuan ranjau Iran di Selat Hormuz.
Selain itu, data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan juga memberikan tekanan pada Dolar AS. Laporan ADP Employment Change menunjukkan penambahan pekerja sektor swasta hanya 38.000 pada bulan Agustus, angka ini jauh di bawah ekspektasi 47.000 dan capaian bulan sebelumnya sebesar 46.000.

Related Post
Di sisi kebijakan moneter, spekulasi kenaikan suku bunga oleh The Fed semakin menguat. Pelaku pasar kini memperkirakan The Fed dapat menaikkan suku bunga secepatnya pada pertemuan September, terutama setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, menunjukkan sikap yang lebih hawkish terhadap inflasi dalam Simposium Jackson Hole. Perangkat CME FedWatch mencatat probabilitas kenaikan suku bunga pada 15-16 September mencapai 64 persen, meningkat signifikan dari 36 persen pada pekan sebelumnya, menambah dinamika pasar yang menguntungkan rupiah.







Tinggalkan komentar