Fenomena Belanja Lewat Video Meledak di Indonesia

Fenomena Belanja Lewat Video Meledak di Indonesia

Cerita.co.id – Tren belanja daring di Indonesia tengah mengalami pergeseran paradigma yang sangat signifikan. Jika sebelumnya masyarakat lebih nyaman berbelanja melalui etalase statis, kini interaksi langsung melalui siaran video atau video commerce menjadi primadona baru. Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah ledakan pasar yang mengubah cara orang bertransaksi secara digital.

Berdasarkan data terbaru dalam laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, sektor video commerce di Indonesia mencatatkan pertumbuhan yang sangat fantastis. Transaksi di sektor ini melonjak hingga 90 persen secara tahunan, dengan nilai mencapai angka 2,6 miliar. Pertumbuhan ini dibarengi dengan peningkatan jumlah penjual aktif dan toko daring yang naik sebesar 75 persen, mencapai angka sekitar 800.000 pelaku usaha.

Fenomena Belanja Lewat Video Meledak di Indonesia
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Namun, di balik angka pertumbuhan yang menggiurkan tersebut, terdapat tantangan besar terkait kesiapan teknologi platform. CEO Agora, Tony Zhao, menyoroti bahwa kecepatan adalah kunci utama dalam ekosistem ini. Dalam sesi siaran langsung, konsumen tidak hanya menonton, tetapi mereka ingin berinteraksi secara instan. Mereka bertanya tentang detail produk, melakukan tawar-menawar, hingga melakukan penawaran harga (bidding) secara real-time.

COLLABMEDIANET

"Keterlambatan beberapa detik saja dalam merespons pertanyaan penonton dapat menentukan apakah transaksi akan berhasil atau calon pembeli justru berpindah ke platform lain," ungkap Tony Zhao dalam keterangannya di Jakarta.

Ia menambahkan bahwa banyak aplikasi saat ini masih terjebak dalam pola siaran satu arah. Artinya, terdapat jeda atau delay yang cukup terasa antara apa yang dilakukan host dengan apa yang dilihat penonton. Untuk konten hiburan, jeda tersebut mungkin tidak menjadi masalah. Namun, dalam konteks belanja, jeda tersebut adalah musuh utama. Jika seorang calon pembeli bertanya mengenai ukuran baju dan jawaban baru muncul setelah ia merasa bosan, maka peluang penjualan tersebut akan hilang seketika.

Indonesia sendiri kini memegang posisi strategis sebagai pasar video commerce terbesar sekaligus yang memiliki pertumbuhan tercepat di kawasan Asia Tenggara. Hal ini didorong oleh karakter masyarakat Indonesia yang secara kultural sangat suka bersosialisasi dan berinteraksi langsung. Kebiasaan menawar di pasar tradisional kini telah bermigrasi ke ranah digital melalui fitur live streaming.

Ekosistem ini juga membawa dampak domino yang positif bagi ekonomi nasional. Selain membuka peluang bagi UMKM untuk menjangkau pasar nasional hanya dengan modal ponsel, tren ini juga menciptakan lapangan kerja baru, mulai dari host live streaming, kreator konten, hingga tim produksi profesional.

Proyeksi ekonomi digital Indonesia pun terlihat sangat menjanjikan. Dalam skenario pertumbuhan menengah, ekonomi digital tanah air diperkirakan mampu menyentuh angka USD180 miliar pada tahun 2030. Ke depannya, platform yang akan memenangkan pasar bukanlah mereka yang sekadar memiliki fitur siaran langsung, melainkan mereka yang mampu menghadirkan pengalaman percakapan yang instan, tanpa jeda, dan terasa sangat nyata bagi penggunanya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar