Cerita.co.id – Keluhan mengenai kosongnya stok bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik Shell mulai mencuat ke permukaan. Fenomena ini memicu tanda tanya besar di kalangan pengguna setia merek global tersebut, mengingat ketersediaan produk di lapangan tampak semakin terbatas dibandingkan periode sebelumnya.
Hingga memasuki bulan Oktober 2026, situasi di lapangan menunjukkan kondisi yang cukup kontras. Dari empat varian produk unggulan yang selama ini ditawarkan, yakni Shell Super, Shell V-Power, Shell V-Power Nitro+, dan Shell V-Power Diesel, hanya varian Shell V-Power Diesel yang terpantau masih tersedia. Namun, ketersediaan produk diesel tersebut pun tidak merata dan hanya ditemukan di titik-titik SPBU tertentu dengan jumlah yang sangat terbatas.
Kondisi ini sebenarnya sudah mulai menunjukkan tren penurunan sejak awal tahun 2026. Meskipun sempat terlihat normal, stok BBM di jaringan Shell perlahan-lahan terus menyusut hingga menimbulkan ketidakpastian bagi konsumen. Menanggapi kegelisahan publik, pihak Shell Indonesia akhirnya memberikan klarifikasi resmi terkait kendala operasional yang mereka hadapi.

Related Post
Dalam keterangan resminya, Shell Indonesia mengungkapkan bahwa saat ini mereka tengah melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah. Fokus utama dari koordinasi tersebut adalah terkait pengajuan rekomendasi impor BBM untuk tahun 2026. Proses ini dilakukan agar seluruh tata laksana impor tetap berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku di Indonesia.
"Shell Indonesia menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah dalam pelaksanaan kegiatan usaha penyediaan BBM selama ini. Kami percaya ketersediaan produk BBM di jaringan SPBU Shell dapat memenuhi kebutuhan para pelanggan dan memberikan kontribusi bagi perekonomian negara," tulis pernyataan resmi Shell yang dikutip dari laman mereka.
Namun, di balik persoalan stok yang menipis, terdapat kabar besar yang tengah dipersiapkan oleh perusahaan. PT Shell Indonesia secara resmi mengumumkan rencana pemisahan usaha dan pengalihan bisnis SPBU di Indonesia kepada pihak lain, yakni PT Isla Energy Indonesia. Langkah strategis ini menandai babak baru dalam peta bisnis ritel bahan bakar di tanah air.
Proses transisi kepemilikan bisnis ini direncanakan akan mulai berlaku efektif pada 30 Oktober 2026. Meski terjadi pengalihan operasional, Shell memastikan bahwa merek Shell akan tetap hadir di tengah masyarakat melalui skema perjanjian lisensi merek. Artinya, konsumen masih akan melihat logo Shell di SPBU, dengan jaminan bahwa produk bahan bakar tetap dipasok oleh Shell dan standar kualitasnya tidak akan mengalami perubahan.
Terkait layanan digital, para pengguna setia diminta untuk segera beralih menggunakan aplikasi baru bernama Shell GO+ Indonesia. Pihak manajemen menjamin bahwa seluruh data keanggotaan pelanggan akan dialihkan secara aman ke bawah kendali PT Isla Energy Indonesia sesuai dengan kebijakan privasi yang ketat. Bagi pelanggan yang merasa keberatan dengan pengalihan data tersebut, mereka diberikan opsi untuk menghapus akun secara mandiri atau menghubungi tim layanan pelanggan dalam waktu 3×24 jam.









Tinggalkan komentar