Rupiah Terancam Tembus Rp18000 per Dolar AS

Rupiah Terancam Tembus Rp18000 per Dolar AS

Cerita.co.id – Nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren pelemahan yang mengkhawatirkan di pasar valuta asing. Pada penutupan perdagangan Kamis (1/10/2026), mata uang Garuda tercatat merosot 72 poin atau melemah sebesar 0,40 persen. Kondisi ini membawa posisi rupiah ke level Rp17.966 per dolar AS, sebuah angka yang semakin mendekati ambang psikologis Rp18.000.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik global yang kian memanas. Salah satu faktor eksternal yang paling menonjol adalah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Iran dilaporkan telah menerima tanggapan dari AS terkait usulan gencatan senjata terbaru, namun proses negosiasi ini masih sangat fluktuatif.

Rupiah Terancam Tembus Rp18000 per Dolar AS
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Ketidakpastian ini diperparah oleh sikap keras Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump secara tegas membantah laporan media internasional mengenai kesediaannya untuk memberikan keringanan sanksi atau mencairkan dana Iran yang dibekukan. Sebelumnya, sempat muncul spekulasi bahwa AS bersedia memberikan kompensasi ekonomi asalkan Teheran mengambil langkah konkret terkait program nuklirnya. Namun, penolakan ini justru menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah dan memicu volatilitas di pasar keuangan global.

COLLABMEDIANET

Selain isu geopolitik, kebijakan energi Amerika Serikat juga turut memberikan tekanan. Presiden Trump menyatakan masih mempertimbangkan kemungkinan larangan ekspor solar AS. Isu ini menjadi sangat sensitif mengingat harga solar di Amerika Serikat baru saja mencetak rekor tertinggi mencapai USD6,53 per galon pekan lalu, sementara cadangan energi mereka berada pada titik terendah dalam sejarah.

Di sisi lain, kondisi ekonomi domestik menunjukkan secercah harapan. Berdasarkan data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global, aktivitas manufaktur di Indonesia akhirnya kembali memasuki zona ekspansi pada September 2026. Angka PMI Indonesia melonjak ke level 52,4, berbalik arah dari kondisi kontraksi di angka 49,8 pada bulan Agustus sebelumnya. Pencapaian ini merupakan level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir, yang menandakan sektor industri dalam negeri mulai pulih.

Meskipun ekonomi domestik menguat, pelaku pasar global masih sangat terpaku pada kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS menunjukkan kenaikan 0,2 persen pada Agustus, angka yang lebih rendah dari ekspektasi. Hal ini sempat memberikan sedikit napas bagi pasar karena menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober mendatang.

Kini, perhatian dunia tertuju pada laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis pada hari Jumat. Data tersebut akan menjadi kompas utama bagi para investor dalam menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya, yang secara langsung akan menentukan nasib nilai tukar rupiah di masa mendatang.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar