Cerita.co.id, Jakarta – Anggaran subsidi dan kompensasi energi Indonesia diproyeksikan melonjak drastis hingga mencapai angka fantastis Rp700 triliun. Prediksi mengejutkan ini disampaikan oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, yang menyoroti dampak serius dari gejolak geopolitik global terhadap sektor energi nasional. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara EBTKE Conex di JIExpo Kemayoran, pada Rabu (2/9/2026).
Menurut Yuliot Tanjung, ketegangan geopolitik yang berkelanjutan, seperti konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta perang di Ukraina yang melibatkan Rusia, telah secara signifikan mengganggu rantai pasok energi dunia. Kondisi ini secara langsung mendorong kenaikan harga komoditas energi di pasar internasional. Jika sebelumnya beban subsidi dan kompensasi energi berada di kisaran Rp400 triliun setiap tahun, kini diperkirakan akan ada penambahan sekitar Rp300 triliun. Totalnya, anggaran yang harus ditanggung negara bisa mencapai Rp700 triliun.
Pembengkakan anggaran ini bukan tanpa konsekuensi. Kenaikan harga energi tidak hanya akan berimbas pada harga bahan bakar minyak (BBM), listrik, dan LPG di dalam negeri, tetapi juga akan memicu peningkatan biaya produksi di berbagai sektor industri. Ujungnya, inflasi berpotensi melonjak, dan defisit pembiayaan APBN, khususnya untuk tahun 2026, akan semakin terbebani.

Related Post
Menyikapi ancaman fiskal ini, pemerintah melalui Kementerian ESDM menggalakkan pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebagai strategi kunci. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil dan impor, yang selama ini menjadi salah satu pemicu utama fluktuasi anggaran. Dengan mempercepat transisi energi menuju EBT, Indonesia tidak hanya berupaya menekan potensi kerugian finansial, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.









Tinggalkan komentar