Cerita.co.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah menunjukkan performa impresif pada penutupan perdagangan Jumat (28/8/2026). Mata uang Garuda berhasil menguat signifikan sebesar 51 poin atau sekitar 0,29 persen, menembus level Rp17.693 per dolar AS. Penguatan ini menjadi sorotan di tengah dinamika pasar global yang penuh ketidakpastian, didorong oleh berbagai sentimen baik dari dalam maupun luar negeri.
Menurut analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, salah satu pendorong utama penguatan rupiah datang dari sentimen eksternal yang menekan dolar AS. Laporan Wall Street Journal, mengutip sumber terpercaya, mengungkapkan bahwa pemerintahan Trump berulang kali menegaskan ketidakberminatannya untuk menghidupkan kembali nota kesepahaman (MOU) bulan Juni dengan Iran. Kondisi ini mempersulit upaya diplomatik untuk memulai kembali perundingan, yang sebelumnya juga dibantah Washington sebagai pembicaraan aktif dengan Teheran, menciptakan ketidakpastian yang membebani mata uang Negeri Paman Sam.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik turut mewarnai sentimen pasar global. Moskow mengeluarkan peringatan keras bahwa mereka siap menyerang target militer Inggris, baik di dalam maupun di luar Ukraina, sebagai respons atas serangan Kyiv ke wilayah Rusia menggunakan rudal jelajah pasokan Inggris. Namun, Presiden Trump meredakan kekhawatiran dengan menyatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan menyerang negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), sekaligus menepis laporan Direktur CIA John Ratcliffe yang pekan ini memperingatkan pejabat Rusia mengenai potensi serangan semacam itu. Pernyataan Trump ini sedikit meredakan gejolak pasar.

Related Post
Meski demikian, pasar tetap berhati-hati menjelang pidato penting Ketua Federal Reserve, Warsh, di Jackson Hole. Pidato yang dijadwalkan pada pukul 10.00 pagi waktu setempat (14.00 GMT) ini dipantau ketat untuk mencari sinyal mengenai arah inflasi dan kebijakan suku bunga AS. Data terbaru, seperti indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang naik 3,7 persen dalam setahun hingga Juli, memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 34 persen pada September dan 74 persen pada Desember, menunjukkan kompleksitas faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang.









Tinggalkan komentar