Cerita.co.id melaporkan bahwa periode mudik Lebaran 2026 menyaksikan lonjakan luar biasa dalam mobilitas masyarakat melalui jalur udara. Data terbaru menunjukkan bahwa selama rentang waktu 13 hingga 21 Maret 2026, total 4,41 juta penumpang telah dilayani di berbagai bandara di seluruh Indonesia. Angka fantastis ini menyoroti peran krusial sektor penerbangan dalam menghubungkan jutaan pemudik, dengan beberapa bandara utama mencatat kepadatan yang sangat tinggi, khususnya di wilayah Jakarta dan Makassar.
Mohammad R Pahlevi, Direktur Utama InJourney Airports, mengungkapkan bahwa Soekarno-Hatta International Airport (CGK) di Jakarta memimpin daftar bandara tersibuk. Bandara ini melayani sekitar 1,51 juta penumpang, menegaskan posisinya sebagai gerbang utama mobilitas nasional selama musim mudik. Pahlevi mengapresiasi kelancaran operasional yang berhasil dipertahankan. "Arus mudik berjalan dengan baik. Kami bersyukur aspek operasional dan pelayanan pada periode ini secara umum dapat terjaga optimal, berkat rencana operasi yang matang, dukungan seluruh pihak, serta kolaborasi erat di antara para pemangku kepentingan bandara," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Cerita.co.id.

Di urutan kedua, I Gusti Ngurah Rai International Airport (DPS) di Bali menunjukkan kinerja yang signifikan dengan melayani 523.944 penumpang. Meskipun dikenal sebagai destinasi wisata, bandara ini juga menjadi simpul penting bagi pemudik. Selanjutnya, Juanda International Airport (SUB) di Jawa Timur menempati posisi ketiga dengan 378.056 penumpang, membuktikan perannya sebagai pusat pergerakan vital di kawasan timur Pulau Jawa.

Related Post
Melengkapi daftar lima besar, Sultan Hasanuddin International Airport (UPG) di Makassar berada di posisi keempat dengan 283.099 penumpang, menjadikannya bandara paling sibuk di wilayah Indonesia Timur selama periode arus mudik. Posisi kelima diduduki oleh Kualanamu International Airport (KNO) di Sumatera Utara, yang berhasil melayani 207.661 penumpang. Tingginya volume penumpang dan penerbangan ini, menurut Pahlevi, berhasil dikelola dengan baik berkat koordinasi yang solid antar seluruh pihak, sehingga tidak menimbulkan antrean panjang atau kerugian bagi para penumpang. Ini menunjukkan kesiapan infrastruktur dan manajemen bandara dalam menghadapi puncak kepadatan.









Tinggalkan komentar