Cerita.co.id melaporkan, ketegangan geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah, melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, kini mulai memberikan dampak serius terhadap denyut nadi industri logistik global. Jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz dan Laut Merah, yang merupakan urat nadi perdagangan dunia, menghadapi gangguan signifikan, berujung pada lonjakan biaya angkut dan perpanjangan waktu pengiriman barang secara drastis.
Reef Man, CEO HMS Group, menegaskan bahwa situasi genting ini bukan sekadar isu geopolitik biasa, melainkan sebuah "tantangan kelangsungan bisnis" yang harus dihadapi. Sejak eskalasi konflik meningkat pesat pada Sabtu lalu, perusahaan logistik di seluruh dunia terpaksa mengambil langkah ekstrem dengan mengalihkan rute kapal kargo mereka melalui jalur memutar yang jauh, yakni mengitari Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika.

"Pengalihan rute ke Tanjung Harapan ini secara otomatis menambah waktu transit hingga lebih dari dua pekan. Kondisi pasar saat ini sangat tidak kondusif, sehingga hampir semua penyedia layanan pelayaran menghentikan layanan ekspor ke Timur Tengah maupun sebaliknya," ungkap Reef Man di Jakarta. Ia menambahkan bahwa Selat Hormuz adalah arteri vital perdagangan internasional, tempat seperempat pasokan minyak dunia melintas. Pemblokiran atau gangguan di jalur ini berarti memutus akses pasar ke banyak negara di Timur Tengah.

Related Post
Untuk menjaga agar arus barang tetap bergerak di tengah ketidakpastian ini, HMS Group telah menyiapkan skenario terburuk dengan mencari skema alternatif yang inovatif, salah satunya adalah metode Sea-Air (Laut-Udara). "Kami berupaya mencari solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan spesifik pelanggan. Misalnya, pengiriman barang melalui laut hingga ke Jeddah, Arab Saudi, kemudian dilanjutkan melalui jalur darat menggunakan truk, atau bahkan dikombinasikan dengan pengiriman udara untuk efisiensi waktu," jelasnya.
Tak hanya itu, di tengah gejolak global, HMS Group juga mengambil langkah proaktif dengan melakukan ekspansi strategis ke Vietnam. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko jangka panjang sekaligus optimalisasi potensi pasar di Asia Tenggara. Setelah sukses membangun hub logistik di Singapura, HMS Group kini membidik Vietnam karena negara tersebut menunjukkan pertumbuhan manufaktur yang sangat pesat, menarik banyak perusahaan besar dunia untuk mengalihkan investasi dan basis produksinya ke sana.









Tinggalkan komentar