Rupiah Menguat Tajam ke Level Rp17.882

Rupiah Menguat Tajam ke Level Rp17.882

Cerita.co.id – Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif pada penutupan perdagangan hari ini. Mata uang Garuda berhasil mencatatkan penguatan sebesar 84 poin atau setara dengan 0,47 persen, sehingga berakhir di level Rp17.882 per dolar AS. Kenaikan ini memberikan angin segar bagi stabilitas moneter domestik di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan dunia.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan rupiah ini dipengaruhi oleh berbagai dinamika kompleks, baik dari faktor eksternal maupun kebijakan domestik. Salah satu pemicu utama di pasar global adalah meningkatnya spekulasi terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Isu mengenai potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan tajam para pelaku pasar.

Rupiah Menguat Tajam ke Level Rp17.882
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Ketegangan ini dipicu oleh kabar rencana pengiriman tambahan 10.000 tentara AS ke kawasan Timur Tengah serta spekulasi mengenai serangan udara yang mungkin dilakukan pada bulan November mendatang. Kondisi ini membuat pasar sangat waspada terhadap stabilitas di Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran yang sangat krusial bagi distribusi energi dunia. Jika konflik memanas, risiko inflasi global akan melonjak, yang pada gilirannya dapat mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat di berbagai negara.

COLLABMEDIANET

Di sisi lain, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat masih menjadi teka-teki bagi para investor. Para pejabat Federal Reserve (The Fed) menunjukkan sikap yang beragam. Wakil Ketua The Fed, Philip Jefferson, memberikan sinyal bahwa kondisi lapangan kerja di AS saat ini sudah mendekati titik maksimal, sehingga ia menekankan pentingnya sikap sabar dalam melakukan penyesuaian suku bunga. Sebaliknya, Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, justru menunjukkan sikap hawkish dengan mendorong kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Pasar saat ini tengah menanti rilis data nonfarm payrolls bulan September yang sangat dinantikan. Para ekonom memprediksi adanya perlambatan penambahan lapangan kerja di AS, di mana angka pertumbuhan diperkirakan turun menjadi sekitar 90.000, jauh di bawah angka Agustus yang mencapai 162.000. Meskipun demikian, data inflasi yang cenderung melandai telah menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Dari sisi internal, penguatan rupiah juga didukung oleh langkah proaktif Bank Indonesia. Bank sentral Indonesia baru-baru ini memperluas jenis surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter. Dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi ke dalam instrumen tersebut, Bank Indonesia memberikan ruang lebih luas bagi perbankan untuk mengelola likuiditas mereka. Kebijakan ini diharapkan dapat memperlancar aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar keuangan nasional, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi dalam negeri.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar