Cerita.co.id – Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, tak dapat menyembunyikan kekesalannya. Kemarahan itu dipicu oleh maraknya berita bohong atau hoaks mengenai kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di negaranya. Fenomena ini, menurut Anwar, telah memicu keresahan dan kekacauan di tengah masyarakat yang sedang berjuang menghadapi tantangan ekonomi global.
Anwar Ibrahim menjelaskan bahwa pemerintah Malaysia saat ini tengah berjuang keras menghadapi krisis energi global yang berdampak signifikan pada pasokan dan harga BBM. Dalam situasi genting dan penuh tekanan seperti ini, ia menegaskan, tindakan menyebarkan informasi palsu adalah bentuk sabotase yang merugikan. Menurutnya, upaya keras pemerintah menjadi sia-sia ketika ada pihak-pihak yang terus-menerus "berdusta, membenci, menyabotase, dan berkhianat". Ia mempertanyakan, "Berapa banyak berita-berita palsu tentang kenaikan harga minyak dan dasar-dasar tidak benar?"
Data dari Suruhanjaya Komunikasi dan Multimedia Malaysia (SKMM) mengonfirmasi skala masalah ini. Lembaga tersebut telah mengidentifikasi hampir 100 konten berita palsu yang beredar di media sosial, khusus mengenai harga minyak dan listrik. Anwar menyatakan keheranannya atas motif di balik penyebaran hoaks tersebut.

Related Post
Perdana Menteri menyoroti dampak serius dari tindakan ini. "Rakyat susah, negara terancam dan terpaksa mengambil tindakan akibat perang di kawasan lain," ujarnya, menegaskan bahwa di tengah kesulitan global, penyebaran cerita palsu adalah "langkah khianat kepada negara dan rakyat". Ia mendesak pihak berwenang, baik Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) maupun SKMM, untuk segera mengambil tindakan tegas.
Untuk meluruskan informasi yang keliru, Anwar juga membeberkan fakta terkini mengenai harga BBM. Saat ini, harga RON 95 di Malaysia masih berada di angka 1,99 ringgit atau setara dengan sekitar Rp 8.500 per liter. Harga tersebut, lanjutnya, masih disubsidi penuh oleh pemerintah demi meringankan beban masyarakat.
Menutup pernyataannya, Anwar Ibrahim menyerukan kepada seluruh rakyat Malaysia untuk lebih bijak dalam menyaring informasi. Ia mengajak masyarakat untuk "memilih, menyaring berita dan mencari fakta yang betul, kemudian coba sama-sama memantau keadaan, simak dengan rapi dan mengambil langkah untuk menyelamatkan keluarga kita." Pesan ini menjadi pengingat penting akan bahaya disinformasi di era digital.








Tinggalkan komentar