Pertamax Naik Belum Setengah

Pertamax Naik Belum Setengah

Cerita.co.id, Jakarta – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter sejak 10 Juni lalu, yang memicu beragam respons di masyarakat, ternyata masih jauh di bawah nilai keekonomiannya yang sesungguhnya. Pertamina menegaskan bahwa penyesuaian harga tersebut baru mencapai separuh dari harga pasar yang seharusnya.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun, menguak fakta bahwa kenaikan sebesar Rp 3.950 dari banderol sebelumnya ini belum sepenuhnya mencerminkan nilai keekonomian produk beroktan (RON) 92 tersebut. "Saat ini penyesuaian kenaikan harga Pertamax masih di level sekitar 50% dari harga keekonomian. Dengan RON lebih tinggi dan kualitas lebih baik, harga Pertamax pasti di atas Pertalite secara keekonomian," jelas Roberth.

Pertamax Naik Belum Setengah
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Sebagai informasi, Pertamax sejatinya masuk dalam kategori BBM Non-Subsidi atau Jenis Bahan Bakar Minyak Umum (JBU), yang fluktuasi harganya idealnya mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia. Namun, pemerintah sempat melakukan intervensi signifikan. "Pemerintah berkoordinasi dengan Pertamina agar tidak dilakukan penyesuaian harga pada periode krusial sebelumnya. Harga Pertamax ditahan untuk tidak naik," ungkap Roberth.

COLLABMEDIANET

Baru pada 10 Juni, penyesuaian harga dilakukan. Langkah ini diambil sebagai jalan tengah strategis untuk menjaga keseimbangan antara kemampuan finansial negara dan daya beli masyarakat yang sensitif. Tak hanya Pertamina, seluruh Badan Usaha (BU) swasta penyedia BBM di Indonesia juga serentak melakukan langkah serupa.

Roberth menambahkan, keputusan untuk tidak menaikkan harga Pertamax secara penuh mengikuti harga keekonomian pasar adalah demi menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. "Harga yang disesuaikan juga tidak sepenuhnya mengikuti harga keekonomian berbasis harga pasar atau internasional. Poin penting saat ini adalah bahwa harga Pertamax saat ini ada peran pemerintah di dalamnya, dan juga Pertamina," tegasnya.

Perbandingan Global: Pertamax Masih Kompetitif

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, harga Pertamax di Indonesia terbilang masih kompetitif, bahkan cenderung lebih rendah. Di Malaysia, misalnya, tidak ada BBM RON 92 yang dijual. Bensin RON 95 bersubsidi di negeri jiran dibanderol 1,99 ringgit atau setara dengan Rp 8.796, sementara versi non-subsidi mencapai 3,72 ringgit atau sekitar Rp 16.444.

Thailand menjual BBM RON 91 seharga 42,74 baht atau setara Rp 23.327. Di Filipina, bensin tanpa timbal RON 91 dijual seharga 90,36 peso per liter (Rp 26.430), RON 95 di angka 96,87 peso (Rp 28.335), dan RON 97 mencapai 105,35 peso (Rp 30.815). Hanya Vietnam yang menawarkan bensin RON 92 (setara Pertamax) sedikit lebih murah, yakni sekitar Rp 14 ribuan.

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, sebelumnya juga menegaskan bahwa perusahaan telah menahan harga jual Pertamax dalam waktu yang cukup lama. Langkah ini ditempuh untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kondisi geopolitik global yang tak menentu.

"Pertamax RON 92 kebetulan di market itu karena kondisi geopolitik kemarin itu naik, RON 92 itu kalau di market itu udah harganya Rp20.000-an, Rp21.000. Dan kita masih tahan, masih berupaya menahan di Rp12.300," kata Sigit. Ia menekankan bahwa penyesuaian ini krusial untuk memastikan ketersediaan pasokan di pasar, mengingat harga internasional yang jauh lebih tinggi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar