Cerita.co.id, Jakarta – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green yang signifikan baru-baru ini telah memicu gelombang perpindahan konsumen ke Pertalite, opsi yang lebih terjangkau. Fenomena ini sontak menimbulkan pertanyaan krusial di kalangan masyarakat: apakah stok Pertalite akan memadai untuk menampung lonjakan permintaan yang masif ini?
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan telah mengantisipasi potensi pergeseran atau migrasi konsumen dari BBM Pertamax ke Pertalite. Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa pihaknya berkoordinasi erat dengan PT Pertamina Patra Niaga untuk memantau tren konsumsi harian pasca penyesuaian harga. Menurut pemantauan dua hari terakhir, perpindahan konsumen masih berada dalam batas aman. "Itu juga fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa akan ada kemungkinan besar pergeseran. Tadi kami sudah berdiskusi dengan Biro Pertamina Patra Niaga. Alhamdulillah tidak terlalu besar shiftingnya," ujar Dwi saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip dari CNBC Indonesia, Sabtu (13/6). Pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap realisasi kuota Pertalite yang tahun ini ditetapkan sebesar 29,2 juta kiloliter.
Meski demikian, Kementerian ESDM tidak berdiam diri. Berbagai langkah antisipasi disiapkan untuk mencegah lonjakan konsumsi BBM subsidi yang tidak terkendali. Salah satunya adalah dengan memperkuat pengawasan terhadap distribusi dan penyaluran BBM bersubsidi, termasuk melalui sistem QR Code dalam pembelian. "Menteri ESDM sudah meminta Pertamina dan pihak terkait untuk meningkatkan pengawasan di bawah," tambah Dwi, mengakui adanya oknum yang mencoba mengakali sistem tersebut.

Related Post
Kementerian ESDM juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan BBM sesuai hak dan peruntukannya demi menjaga ketahanan energi nasional. Pemerintah berkomitmen tetap menahan harga Pertalite di angka Rp 10.000/liter, langkah strategis untuk melindungi daya beli kelompok masyarakat paling rentan. "Yang paling penting kesadaran dari masyarakat yang tumbuh. Mana yang haknya, mana yang bukan haknya, itu sih yang lebih penting. Agar kita bisa sama-sama survive," kata Dwi.
Per 10 Juni lalu, harga BBM non-subsidi Pertamina melonjak drastis. Pertamax kini dibanderol Rp 16.250 per liter, naik hampir Rp 4.000 dibandingkan harga sebelumnya yang hanya Rp 12.300 per liter. Selain itu, Pertamax Green juga mengalami penyesuaian harga dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. Sementara itu, harga Pertalite tetap stabil di Rp 10.000 per liter.
Namun, penting untuk diingat bahwa perpindahan ke Pertalite tidak selalu menjadi solusi terbaik bagi semua kendaraan. Setiap kendaraan memiliki spesifikasi mesin yang berbeda, yang memerlukan jenis BBM dengan nilai Research Octane Number (RON) yang sesuai. Sebagai contoh, mobil jenis LCGC (Low Cost Green Car) diwajibkan menggunakan BBM dengan RON 92 atau setara Pertamax, sesuai Peraturan Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi nomor 29/IUBIT/PER/9/2014. Penggunaan BBM yang tidak sesuai dapat berdampak buruk pada performa, efisiensi, dan umur mesin kendaraan dalam jangka panjang.








Tinggalkan komentar