Cerita.co.id melaporkan, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyambut baik keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah gejolak global yang berpotensi memicu kelangkaan. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis yang terukur untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan melindungi daya beli masyarakat dari tekanan inflasi yang tidak diinginkan.
Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, mengungkapkan apresiasinya kepada pemerintah atas langkah tersebut. "Kami menghargai upaya pemerintah untuk tidak menaikkan BBM. Dampaknya sangat luas pada daya beli masyarakat. Pengalaman menunjukkan kenaikan BBM selalu memukul daya beli," ujarnya kepada Cerita.co.id pada Jumat (3/4/2026). Ia menambahkan, keputusan ini membantu dunia usaha menghindari risiko inflasi harga yang bisa berdampak pada kemampuan konsumsi masyarakat secara signifikan.
Meskipun demikian, Apindo juga mengimbau sektor industri untuk menahan diri. Kenaikan harga produk seharusnya menjadi opsi terakhir, bahkan jika biaya produksi meningkat akibat kelangkaan atau potensi kenaikan harga BBM di masa depan. "Jangan sampai daya beli terpukul, lalu kami menaikkan harga. Di rantai pasok juga begitu. Walaupun kelangkaan memacu kenaikan harga, industri harus menahan diri," tegas Bob. Ini adalah upaya bersama untuk menjaga kelangsungan baik produsen maupun konsumen dalam ekosistem ekonomi.

Related Post
Namun, Apindo juga menyadari bahwa kebijakan menahan harga BBM tidak bisa bertahan selamanya. Eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara AS-Israel dan Iran, berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah global. Kondisi ini akan membebani anggaran negara yang harus menanggung subsidi BBM, sehingga penyesuaian harga mungkin tak terhindarkan di kemudian hari demi menjaga kesehatan fiskal negara.









Tinggalkan komentar