Motor Listrik MBG Rp50 Juta Bikin Geger

Dana Sulistiyo

Motor Listrik MBG Rp50 Juta Bikin Geger

Cerita.co.id melaporkan, pengadaan ribuan motor listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menelan anggaran triliunan rupiah kini menjadi sorotan tajam publik. Proyek ini memicu pertanyaan besar, terutama terkait pilihan merek dan harganya yang fantastis, di tengah banyaknya opsi kendaraan listrik yang lebih terjangkau di pasaran Indonesia.

Dua model motor listrik yang menjadi pusat perhatian adalah Emmo JVX GT, berdesain ala motor trail dengan banderol Rp 56,8 juta, serta skuter listrik Emmo JVH Max seharga Rp 48,8 juta. Kedua jenis kendaraan ini, berdasarkan informasi di situs resmi Emmo, disiapkan untuk menunjang operasional Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Logo Badan Gizi Nasional (BGN) akan tersemat pada unit-unit tersebut.

Motor Listrik MBG Rp50 Juta Bikin Geger
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Penelusuran Cerita.co.id melalui laman Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) Inaproc milik Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) mengungkap skala pengadaan yang mencengangkan. Terdapat dua paket pengadaan kendaraan roda dua untuk Badan Gizi Nasional, masing-masing bernilai Rp 1,22 triliun. Anggaran ini bersumber dari APBN dengan metode pemilihan e-purchasing.

COLLABMEDIANET

Setiap paket mencakup 24.400 unit, sehingga total pengadaan mencapai 48.800 unit motor listrik. Dalam katalog pengadaan, tertera PT Yasa Artha Trimanunggal sebagai penyedia dengan harga satuan per motor Rp 49,95 juta, sudah termasuk PPN 12 persen. Jika diakumulasikan, satu paket pengadaan Emmo JVX GT saja bisa mencapai sekitar Rp 1,218 triliun.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa pengadaan motor ini merupakan bagian dari perencanaan anggaran tahun 2025. Menurut Dadan, fungsi utama motor-motor ini adalah mendukung operasional Kepala SPPG dalam menjalankan program MBG. "Pengadaan motor ini memang masuk dalam anggaran 2025. Fungsinya untuk mendukung operasional Kepala SPPG," terang Dadan dalam keterangan resminya, Selasa (7/4/2026).

Namun, transparansi dan efisiensi pemilihan motor listrik seharga Rp 50 jutaan ini menjadi tanda tanya besar. Banyak pihak mempertanyakan mengapa BGN memilih merek Emmo dengan harga tersebut, padahal pasar kendaraan listrik di Indonesia menawarkan berbagai alternatif yang lebih kompetitif.

Pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik), Hendro Sutono, menyoroti mekanisme pengadaan. Menurutnya, jika prosesnya mengarah pada penunjukan satu vendor, hal ini sangat disayangkan. "Indonesia telah memiliki sejumlah produk kendaraan listrik dari beberapa merek dengan kemampuan yang relatif setara. Beberapa di antaranya bahkan berasal dari badan usaha milik negara seperti GESITS, PINDAD, dan PT. LEN, yang selama ini juga terlibat dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional," ujar Hendro dalam tulisan pribadinya, Rabu (8/4/2026), yang diizinkan Cerita.co.id untuk dikutip.

Hendro menambahkan bahwa keterlibatan lebih dari satu penyedia tidak hanya berpotensi meningkatkan transparansi dan daya saing, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri dalam negeri secara lebih merata. Ia menilai, pilihan motor listrik tipe trail untuk pedesaan dan skuter urban untuk perkotaan sudah tepat secara geografis. Harga yang ditawarkan Emmo juga disebutnya kurang lebih setara dengan produk sejenis seperti United RX6000, Alessa Dimentro DT-Pro, Surron Ultra Bee, atau Tromox UKKO, meskipun harga produk dari PT LEN dan PT PINDAD tidak tersedia untuk umum.

Polemik ini semakin memanas setelah Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa pihaknya sempat menolak pengadaan komputer dan motor untuk program serupa tahun lalu. Purbaya mengaku belum mengetahui detail informasi terbaru ini dan akan melakukan pengecekan lebih lanjut.

"Tahun lalu sempat kita nggak mau, kita tolak untuk beli komputer yang terlalu banyak dan beli motor, tapi sekarang saya belum tahu, saya akan lihat lagi seperti apa. Ini gosip ya? Saya cek lagi," kata Purbaya dalam diskusi media di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026). Purbaya menegaskan bahwa anggaran untuk MBG seharusnya diprioritaskan untuk pengadaan makanan. Ia bahkan menyarankan agar mitra MBG yang sudah mendulang untung bisa menyisihkan sebagian keuntungannya untuk mencicil motor sendiri.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar