Laos Tercekik BBM Antre 5 Jam

Dana Sulistiyo

Laos Tercekik BBM Antre 5 Jam

Cerita.co.id mengabarkan, gelombang krisis bahan bakar minyak (BBM) kini menerjang Laos, memaksa warganya menghadapi antrean panjang nan melelahkan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Situasi ini, yang mengharuskan mereka menunggu hingga lima jam hanya untuk mengisi setengah tangki, merupakan imbas langsung dari gangguan suplai global menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran, sebuah peristiwa yang turut mengguncang stabilitas energi di sejumlah negara Asia Tenggara.

Kondisi di Luang Prabang, salah satu pusat pariwisata Laos, digambarkan sangat memprihatinkan. Chantee Sipaseuth, seorang sopir tur lokal, berbagi pengalamannya yang ekstrem: "Situasinya benar-benar parah di Luang Prabang. Sekarang hanya menerima pembayaran tunai, jadi sementara selama saya menunggu selama lima jam sehari, saya harus meminta istri saya untuk membawa uang tunai dan makanan agar bisa membayar BBM." Demi mereduksi konsumsi bahan bakar yang mayoritas diimpor dari Thailand, pemerintah Laos bahkan telah memberlakukan sistem sekolah tiga hari dalam sepekan.

Laos Tercekik BBM Antre 5 Jam
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Gangguan pasokan BBM ini berakar dari penutupan Selat Hormuz oleh Iran, sebuah jalur vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia. Konsekuensinya, rantai distribusi energi global terganggu, dan negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Thailand yang selama ini menjadi pemasok utama bagi Laos, turut merasakan imbasnya.

COLLABMEDIANET

Meskipun demikian, Thailand mengklaim memiliki cadangan bahan bakar yang cukup untuk 100 hari ke depan, dengan catatan konflik antara AS-Israel dan Iran segera mereda. Untuk melindungi warganya, terutama petani, pemerintah Thailand menggelontorkan puluhan juta dolar setiap hari untuk mensubsidi harga BBM dan pupuk, dua komoditas yang sangat bergantung pada jalur Selat Hormuz. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul bahkan mengeluarkan peringatan keras kepada para penimbun, mengancam sanksi berat bagi siapa saja yang kedapatan menaikkan harga secara tidak wajar.

Namun, tidak semua sektor luput dari dampak. Sejumlah SPBU di Thailand dilaporkan mulai mengalami kelangkaan pasokan hingga terpaksa tutup. Para nelayan terpaksa menambatkan perahu mereka karena tak mampu membeli solar untuk melaut. Sakol Insangnoen, seorang sopir taksi online di Bangkok, mengungkapkan betapa sulitnya situasi ini: "Saya harus merencanakan jauh-jauh hari agar bisa mengisi bahan bakar lebih awal sebelum antrean panjang dan saya terpaksa menolak banyak pesanan karena tidak sepadan untuk pergi jauh dengan ketidakpastian soal bahan bakar." Ia menambahkan, beberapa rekan pengemudi bahkan memilih berhenti karena potongan dari platform seperti Grab terasa memberatkan di tengah biaya operasional yang melambung.

Krisis energi yang melanda Laos dan mulai merambat ke negara tetangga seperti Thailand ini menjadi cerminan nyata betapa rentannya pasokan energi regional terhadap gejolak geopolitik global. Tanpa resolusi cepat atas konflik di Timur Tengah, tantangan serupa diperkirakan akan terus membayangi stabilitas ekonomi dan sosial di kawasan ini.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar