Cerita.co.id – Bank Indonesia (BI) kembali mengerek suku bunga acuannya menjadi 5,50 persen. Kebijakan moneter ini sontak memicu kekhawatiran di kalangan calon pembeli kendaraan baru, pasalnya berpotensi besar mendongkrak suku bunga kredit kendaraan bermotor (KKB).
Menanggapi hal ini, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, menegaskan bahwa nasabah dengan kontrak pembiayaan yang sedang berjalan tidak perlu khawatir. "Untuk nasabah yang sudah jalan bersama pembiayaan itu tidak akan ada perubahan naik turunnya suku bunga," ujar Suwandi, seperti dikutip Cerita.co.id.
Namun, Suwandi melanjutkan, dampak signifikan justru akan terasa pada pembiayaan baru. Kenaikan suku bunga acuan BI berpotensi besar meningkatkan biaya dana (cost of fund) bagi perusahaan pembiayaan. Mengingat sekitar 70 persen sumber pendanaan multifinance berasal dari pinjaman perbankan, penyesuaian bunga dari bank kepada multifinance akan diteruskan kepada konsumen baru. Alhasil, suku bunga yang ditawarkan kepada calon debitur dipastikan akan lebih tinggi.

Related Post
"Dampaknya bukan kepada pembiayaan yang sedang berjalan, tetapi kepada yang akan datang. Nanti akan dikaitkan dengan daya beli dan kemampuan bayar," tambahnya, menyoroti potensi tantangan bagi kemampuan finansial masyarakat.
Di sisi lain, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyuarakan harapannya agar kenaikan suku bunga acuan ini tidak serta-merta mendorong kenaikan suku bunga kredit kendaraan bermotor. "Memang naik menjadi 5,5 persen, mudah-mudahan suku bunga KKB tidak langsung naik juga," kata Jongkie, salah satu petinggi Gaikindo, kepada Cerita.co.id.
Tantangan bagi industri otomotif tak berhenti pada faktor suku bunga. Pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi momok yang berpotensi memicu kenaikan harga kendaraan. Mobil dan motor yang masih sangat bergantung pada komponen impor akan merasakan dampak langsung dari fluktuasi mata uang ini.
Meski demikian, berbagai merek otomotif di Indonesia saat ini masih berupaya menahan harga jual kendaraannya. Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menjelaskan bahwa industri tidak serta-merta menaikkan harga begitu rupiah melemah. "Biasanya pelaku industri otomotif itu nggak segampang itu ‘oh ini naik, hari ini kita (naikkan harga mobil)’. Kan kita bukan kayak fast moving things, perlu penghitungan," ujar Kukuh.
Ia menambahkan, keputusan menaikkan harga secara gegabah justru bisa berbalik arah, membuat konsumen menunda pembelian. Hal ini akan berdampak pada penumpukan stok barang jadi, komponen, hingga komitmen pembelian bahan baku. "Panjang. Jadi kita jaga optimismenya," pungkas Kukuh, menekankan pentingnya strategi jangka panjang di tengah ketidakpastian ekonomi.








Tinggalkan komentar