Cerita.co.id melaporkan, Pemerintah Indonesia telah menorehkan sejarah baru dalam hubungan dagang internasionalnya dengan Amerika Serikat (AS) melalui penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada Kamis, 19 Februari 2026. Kesepakatan penting ini, yang mencakup 22 poin krusial, diharapkan membawa angin segar bagi perekonomian nasional, sekaligus menjawab berbagai kekhawatiran terkait sertifikasi halal dan keamanan data pribadi.
Latar belakang perjanjian ini bermula dari keputusan unilateral Pemerintah AS pada 2 April 2025 yang menetapkan Tarif Resiprokal sebesar 32% bagi negara-negara penyebab defisit perdagangan AS, termasuk Indonesia. Langkah ini diambil menyusul defisit perdagangan AS dengan Indonesia yang mencapai USD 19,3 miliar pada tahun 2024. Pemerintah Indonesia memandang negosiasi sebagai jalan terbaik untuk melindungi daya saing produk ekspor serta kelangsungan hidup sekitar 4-5 juta pekerja di sektor industri padat karya yang terancam oleh tarif tinggi tersebut. Diplomasi dipilih sebagai strategi utama, menghindari aksi balasan yang berpotensi merugikan ekonomi nasional lebih jauh.
Melalui serangkaian perundingan intensif, Indonesia berhasil meyakinkan AS untuk menurunkan Tarif Resiprokal dari 32% menjadi 19% pada 15 Juli 2025. Puncak dari upaya ini adalah penandatanganan ART oleh Presiden RI dan Presiden AS, yang tidak hanya menetapkan besaran tarif baru, tetapi juga memberikan pengecualian tarif bagi produk unggulan Indonesia. Komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, kakao, kopi, karet, dan tekstil kini akan menikmati akses pasar AS yang lebih mudah, membuka peluang ekspor yang lebih besar.

Related Post
Perjanjian ART ini dijadwalkan akan berlaku 90 hari setelah kedua negara menyelesaikan prosedur hukum domestik masing-masing, termasuk konsultasi dengan lembaga terkait dan proses ratifikasi. Fleksibilitas juga menjadi salah satu fitur perjanjian, di mana ART dapat dievaluasi dan diubah sewaktu-waktu atas permohonan dan persetujuan tertulis dari kedua belah pihak, menjamin adaptabilitas terhadap dinamika perdagangan global di masa mendatang.









Tinggalkan komentar