Cerita.co.id, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Mata uang Garuda ditutup anjlok 52 poin atau 0,29 persen, mencapai level Rp17.795 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan kekhawatiran domestik yang semakin memuncak.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa sentimen negatif dari luar negeri berasal dari laporan serangan baru AS terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran selatan. Militer AS mengklaim tindakan ini sebagai "pembelaan diri," meskipun gencatan senjata dengan Iran disebut masih berlaku. Ibrahim memperingatkan bahwa eskalasi militer ini berpotensi mempersulit negosiasi damai yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, terutama mengingat peringatan berulang Teheran agar AS tidak melakukan serangan lebih lanjut.

Aksi militer ini bahkan menutupi kabar sebelumnya tentang kesepakatan kerangka kerja untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz, yang sempat membuat harga minyak turun tajam. Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga mengisyaratkan kemajuan negosiasi, bahkan mengklaim Iran akan menyerahkan cadangan uraniumnya, meskipun Iran membantah sebagian besar klaim tersebut. Ketidakjelasan di lapangan membatasi penurunan harga minyak mentah.

Related Post
Di sisi domestik, pelemahan rupiah yang berkelanjutan ini menimbulkan kekhawatiran akan krisis kepercayaan yang berujung pada krisis ekonomi. Dampak langsungnya adalah peningkatan biaya produksi bagi perusahaan, terutama industri yang sangat bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor. Kondisi ini secara serius meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor, menambah beban ekonomi masyarakat di tengah ketidakpastian global.









Tinggalkan komentar