Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu Ini Dalangnya

Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu Ini Dalangnya

Cerita.co.id – Lonjakan harga cabai rawit merah yang sempat menembus angka fantastis Rp100.000 per kilogram di pasar-pasar Indonesia, kini mulai terkuak penyebab utamanya. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan, fenomena ini bukan disebabkan oleh minimnya pasokan nasional, melainkan gangguan serius pada proses pemetikan akibat kondisi cuaca ekstrem.

Berdasarkan pantauan langsung dan inspeksi mendadak yang dilakukan Bapanas di salah satu sentra distribusi utama, Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, harga cabai rawit merah saat ini terpantau di kisaran Rp80.000 per kg. Angka ini memang menunjukkan sedikit penurunan dibandingkan puncaknya yang sempat mencapai Rp90.000 hingga Rp100.000 per kg pada pekan sebelumnya, namun tetap jauh di atas harga normal yang diharapkan konsumen.

Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu Ini Dalangnya
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan secara gamblang bahwa ketersediaan cabai rawit di tingkat nasional sebenarnya masih sangat memadai. Permasalahan krusial terletak pada tingginya intensitas curah hujan yang menghambat aktivitas panen di sentra-sentra produksi. "Produksi sebenarnya sangat cukup, tetapi masalahnya di petik. Saat hujan tinggi, tenaga kerja tidak berani memetik karena cabai akan cepat busuk," ungkap Deputi Ketut dalam keterangan resminya kepada Cerita.co.id, Senin (16/2/2026).

COLLABMEDIANET

Kondisi ini menciptakan dilema bagi para petani dan pekerja panen. Hujan deras tidak hanya menyulitkan akses ke lahan, tetapi juga meningkatkan risiko kerusakan dan pembusukan cabai pasca-panen jika dipetik dalam kondisi basah. Akibatnya, pasokan ke pasar menjadi tersendat, menciptakan tekanan pada harga meskipun volume produksi secara keseluruhan tidak berkurang signifikan. Situasi ini menunjukkan betapa rentannya rantai pasok pangan terhadap fluktuasi iklim.

Dengan demikian, upaya stabilisasi harga cabai rawit ke depan akan sangat bergantung pada perbaikan kondisi cuaca dan strategi mitigasi risiko panen di musim hujan. Bapanas terus memantau pergerakan harga dan pasokan untuk memastikan ketersediaan pangan pokok tetap terjaga bagi masyarakat.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar