Cerita.co.id – Keamanan berkendara kini menjadi perhatian utama di tengah pesatnya perkembangan teknologi otomotif. Masyarakat sering kali merasa khawatir akan risiko kebakaran kendaraan yang bisa terjadi kapan saja. Pertanyaan yang kerap muncul di benak para pengguna jalan adalah: jenis mobil apa yang sebenarnya paling rentan mengalami insiden kebakaran?
Selama ini, muncul stigma di masyarakat bahwa mobil listrik adalah jenis kendaraan yang paling berbahaya karena risiko ledakan baterainya. Namun, fakta ilmiah yang ditemukan di lapangan justru menunjukkan hasil yang mengejutkan dan berbanding terbalik dengan kekhawatiran umum tersebut.
Wakil Ketua Pengembangan dan Penelitian Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Prabowo Kartoleksono, memberikan penjelasan mendalam mengenai hal ini. Dalam sebuah rapat dengar pendapat di DPR, ia memaparkan data komparatif yang sangat menarik untuk disimak oleh seluruh pemilik kendaraan.

Related Post
Berdasarkan data yang dihimpun oleh National Transportation Safety Board (NTSB) di Amerika Serikat, dilakukan pendataan terhadap ribuan unit kendaraan untuk melihat tingkat kerentanannya. Studi tersebut membandingkan tiga jenis teknologi utama: kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) atau bensin, kendaraan hybrid, dan kendaraan listrik murni (EV).
Hasilnya cukup mencengangkan. Dari total 100 ribu unit kendaraan hybrid yang dipantau, tercatat sebanyak 3.474,5 kasus kebakaran terjadi. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kendaraan bensin konvensional yang mencatatkan 1.529,9 kasus kebakaran. Sementara itu, mobil listrik murni justru menunjukkan angka yang sangat rendah, yakni hanya 25,1 kasus kebakaran dari 100 ribu unit yang sama.
Prabowo menjelaskan bahwa kerentanan mobil hybrid ini disebabkan oleh kompleksitas sistem penggeraknya. Mobil hybrid mengusung dua sumber tenaga sekaligus, yakni baterai listrik dan bahan bakar bensin. Kombinasi antara energi tegangan tinggi dari baterai dan keberadaan uap bensin dalam satu sistem menciptakan risiko yang lebih besar.
"Jika terjadi sedikit saja titik api, maka kombinasi antara uap bensin dan tegangan listrik tinggi akan memicu kebakaran yang lebih masif. Hal ini sangat masuk akal secara teknis," ungkap Prabowo.
Di sisi lain, ia juga meluruskan persepsi negatif terhadap mobil listrik. Meskipun insiden kebakaran pada mobil listrik bisa terjadi akibat adanya arus pendek akibat modifikasi yang tidak standar atau fenomena thermal runaway, namun secara statistik jumlahnya sangat kecil.
Ia menambahkan bahwa alasan mengapa berita kebakaran mobil listrik sering muncul di media adalah karena faktor viralitas. Karena teknologi ini masih tergolong baru dan sedang menjadi tren, setiap insiden kecil yang menimpa mobil listrik akan langsung mendapatkan sorotan massal dari publik, sehingga menciptakan kesan bahwa mobil listrik sangat tidak aman. Padahal, secara data, mobil listrik justru memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi dibandingkan mobil hybrid maupun bensin.









Tinggalkan komentar