Cerita.co.id melaporkan bahwa pasar otomotif nasional tengah menghadapi gelombang invasi truk-truk asal China. Kendaraan niaga impor ini, yang dikenal dengan harganya yang sangat terjangkau, disinyalir kuat masuk tanpa mematuhi regulasi yang ditetapkan pemerintah, menciptakan gejolak signifikan di industri dalam negeri.
Fenomena ini bukan isapan jempol belaka. Data menunjukkan bahwa hampir separuh dari total penjualan truk di Indonesia kini ‘dimakan’ oleh produk-produk impor dari Tiongkok ini, secara drastis mengikis pangsa pasar kendaraan niaga produksi lokal.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), Kukuh Kumara, dalam wawancara eksklusif dengan Cerita.co.id, mengungkapkan akar masalah dari banjirnya truk non-standar ini. Menurut Kukuh, pemicunya adalah kesulitan pelaku usaha dalam menemukan bahan bakar diesel berstandar Euro 4 di wilayah pedalaman, yang sejatinya telah diwajibkan sejak tahun 2022. Kondisi ini membuka celah bagi masuknya kendaraan dari negara lain yang masih mengusung standar Euro 2.

Related Post
Lebih lanjut, Kukuh menjelaskan bahwa kendaraan-kendaraan impor ini masuk tanpa melalui serangkaian proses dan ketentuan ketat yang ditetapkan pemerintah. "Misalnya, kan harus Euro 4, harus homologasi, harus diuji oleh Kementerian Perhubungan," terang Kukuh. Selain itu, faktor harga yang relatif jauh lebih murah menjadi daya tarik utama bagi para pembeli yang mencari alternatif ekonomis.
Volume impor truk non-standar ini pun tidak main-main. Kukuh menyebutkan angkanya mencapai belasan ribu unit per tahun, bahkan hampir separuh dari total penjualan truk di pasar domestik. "Jadi, misal total penjualan setahun 28 ribu truk, ya itu, dimasukin sampai 14-15 ribu unit yang non-Euro 4 tadi, ya itu tergerus," jelasnya, menggambarkan betapa signifikan dampaknya terhadap industri lokal.
Padahal, Indonesia telah memiliki kapasitas dan kemampuan mumpuni untuk memproduksi truk di dalam negeri. Kendaraan niaga buatan lokal bahkan telah memenuhi seluruh ketentuan dan standar yang diberlakukan pemerintah, termasuk Euro 4. Ironisnya, truk-truk impor dari China ini justru dibawa masuk oleh importir umum tanpa melalui jalur resmi dan pengawasan ketat yang seharusnya.
"Kita sudah mampu memproduksi truk, swasembada kita ya, truk kita mampu, truk dari yang kendaraan komersial sampai heavy duty di atas 24 ton," pungkas Kukuh, menegaskan kembali potensi besar industri otomotif nasional yang kini terancam oleh serbuan produk impor tak beraturan.


Tinggalkan komentar