Cerita.co.id melaporkan, di tengah gempuran persaingan ketat, terutama dari raksasa otomotif Tiongkok BYD, Tesla menghadapi realitas pahit: volume penjualannya merosot tajam dan tak lagi menjadi yang terlaris di pasar mobil listrik global. Namun, anomali menarik terjadi di lantai bursa. Perusahaan besutan Elon Musk ini justru semakin kokoh sebagai entitas otomotif paling bernilai di dunia, sebuah fenomena yang memicu pertanyaan besar: mengapa demikian?
Data penutupan tahun 2025 melukiskan gambaran kontras tersebut. Tesla hanya mampu mengirimkan 1,64 juta unit kendaraan, sebuah penurunan signifikan sebesar 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini jauh tertinggal dari BYD yang berhasil mencatatkan penjualan impresif 2,26 juta unit. Selisih sekitar 600 ribu unit lebih ini secara gamblang menegaskan bahwa mahkota "penjual terbanyak" kini telah beralih tangan ke pabrikan asal China tersebut.
Namun, di balik performa penjualan yang kurang memuaskan, saham Tesla justru menunjukkan ketahanan luar biasa. Sepanjang tahun 2025, nilai saham perusahaan ini secara keseluruhan melonjak sekitar 11 persen. Pada penutupan perdagangan Jumat sore waktu setempat, satu lembar saham Tesla dihargai USD436,85, setara dengan sekitar Rp6,9 juta. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa investor tidak lagi semata-mata melihat Tesla sebagai produsen mobil konvensional.

Related Post
Fokus pasar telah bergeser ke visi jangka panjang Elon Musk yang ambisius. Janji pengembangan layanan Robotaxi dan produksi massal Cybercab tanpa setir pada tahun 2026 menjadi magnet utama. Investor tampaknya bertaruh besar pada potensi Tesla sebagai pemimpin dalam revolusi transportasi otonom, sebuah sektor yang diprediksi akan mengubah lanskap mobilitas global secara fundamental. Mereka melihat Tesla bukan hanya sebagai pembuat mobil, melainkan sebagai raksasa teknologi yang memegang kunci masa depan transportasi.
Lalu, apa yang menyebabkan penjualan Tesla anjlok selama dua tahun berturut-turut? Analisis menunjukkan bahwa kombinasi faktor internal dan eksternal turut berperan. Salah satu pemicu utamanya disinyalir adalah ‘pemberontakan’ konsumen terhadap pandangan politik sayap kanan Elon Musk yang kontroversial. Loyalitas merek yang sempat begitu kuat, tampaknya mulai terkikis oleh sentimen negatif yang muncul dari pernyataan dan sikap sang CEO.
Fenomena Tesla ini menjadi studi kasus menarik di dunia bisnis modern. Di satu sisi, perusahaan ini menghadapi tantangan penjualan yang nyata di pasar yang semakin kompetitif. Namun, di sisi lain, visinya yang futuristik dan janji inovasi disruptif berhasil mempertahankan, bahkan meningkatkan, posisinya sebagai perusahaan otomotif paling berharga di dunia. Masa depan Tesla, dengan demikian, bukan hanya bergantung pada jumlah unit yang terjual, melainkan pada kemampuannya mewujudkan mimpi transportasi otonom yang telah dijanjikan.









Tinggalkan komentar