Cerita.co.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melontarkan prediksi berani mengenai masa depan industri otomotif. Dalam pandangannya, kendaraan berbasis hidrogen diproyeksikan akan menjadi pesaing tangguh bagi mobil listrik bertenaga baterai dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun mendatang. Ini menandai potensi pergeseran paradigma elektrifikasi yang kini didominasi baterai.
Keyakinan Bahlil ini memang kuat, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) masih jauh memimpin. Produksi mobil hidrogen, seperti Toyota Mirai atau Hyundai Nexo, masih sangat terbatas. Selain itu, investasi besar dibutuhkan untuk membangun stasiun pengisian hidrogen (Hydrogen Refueling Station/HRS) yang efisien dan tersebar luas, menjadi tantangan tersendiri dalam adopsi massal.
Bahlil mengakui bahwa biaya produksi hidrogen saat ini memang masih tinggi dibandingkan sumber energi lain. "Problemnya adalah… hidrogen ini memang biayanya masih mahal," ujarnya. Untuk mengatasi hal ini, ia menekankan pentingnya efisiensi teknologi dan kolaborasi riset. Tujuannya adalah menciptakan instrumen produksi yang lebih terjangkau, baik untuk kebutuhan industri maupun transportasi nasional.

Related Post
Sebagai gambaran, Bahlil membandingkan nilai keekonomian hidrogen dengan biaya produksi biodiesel 50% (B50) non-subsidi yang berada di kisaran Rp 18.600 per liter. Berdasarkan diskusi dengan tim riset, biaya energi yang dihasilkan dari hidrogen saat ini masih di atas harga bahan bakar nabati tersebut. "Hidrogen masih agak lebih mahal," tambahnya, menggarisbawahi tantangan ekonomi yang ada.
Meski demikian, pemerintah tetap optimistis. Bahlil memproyeksikan bahwa dinamika geopolitik global, yang menyebabkan akses terhadap minyak mentah semakin sulit dan harga bergejolak, akan mendorong hidrogen menjadi lebih kompetitif. "Dengan perang terus terjadi dan geopolitik yang tidak menentu, tidak akan lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dengan sumber-sumber BBM minyak lainnya," tegasnya.
Dengan berbagai upaya pengembangan dan perubahan lanskap energi global, Bahlil yakin bahwa dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, penggunaan hidrogen akan menjadi pilihan yang sangat kompetitif, bahkan mampu menyaingi dominasi kendaraan listrik berbasis baterai di pasar otomotif.








Tinggalkan komentar