Cerita.co.id melaporkan, gelombang impor 105 ribu unit kendaraan pikap dari India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara kini memicu perdebatan sengit di kalangan publik dan pemerhati lingkungan. Isu yang mengemuka adalah dugaan bahwa Indonesia berpotensi menjadi ‘tong sampah’ bagi kendaraan pikap usang yang sudah tidak memenuhi standar emisi ketat di negara asalnya.
Kekhawatiran ini diungkapkan secara gamblang oleh Eksekutif Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), Ahmad Safrudin. Menurutnya, India telah menerapkan standar emisi Bharat Stage 6 (BS6) yang setara dengan Euro 6. Ironisnya, salah satu model pikap yang diimpor ke Indonesia, Mahindra Scorpio, diketahui masih menganut standar emisi BS4.
Safrudin secara tegas menyebut praktik ini sebagai ‘dumping’ atau penjualan obral ke negara lain, mengingat standar ketat yang berlaku di India. "Betul, kita anggap itu dumping. Karena India sudah masuk ke Euro 6," ujar Ahmad Safrudin dalam sesi konferensi pers daring pada Rabu (25/2).

Related Post
Mengacu pada data Transportpolicy, India telah melakukan lompatan signifikan dari standar emisi BS4 langsung ke BS6. Regulasi ini, yang tertuang dalam Automotive Industry Standard (AIS) 137 tentang Bharat Stage VI, telah berlaku secara nasional sejak April 2020 di bawah payung Ministry of Road Transport & Highways (MoRTH) India. Ini berarti, kendaraan dengan standar emisi di bawah BS6 sudah tidak diizinkan beroperasi di India selama enam tahun terakhir.
Bahkan, pada tahun 2023, India memperketat regulasinya dengan masuk ke BS6 Phase 2 (Real Driving Emissions/RDE), yang menguji emisi dalam kondisi jalan nyata, bukan hanya di laboratorium. Kondisi ini memaksa kendaraan yang beredar di sana harus benar-benar ramah lingkungan.
Safrudin menganalogikan situasi ini dengan penjualan barang yang sudah mendekati kadaluarsa. "Barang busuk, wajar kalau diobral," ujarnya. "Kita lihat di pasar, kalau ada kue basah dijual sore hari harganya didiskon. Karena penjual tahu, kue itu akan kadaluarsa. Makanya diobral. Konteks ini juga demikian." Perbandingan ini menyoroti dugaan bahwa kendaraan yang tidak lagi laku atau memenuhi standar di India justru dilempar ke pasar Indonesia.
Sebagai informasi, PT Agrinas Pangan Nusantara berencana mengimpor total 105 ribu unit pikap dari dua produsen otomotif India, yakni Mahindra dan Tata Motors. Proyek pengadaan kendaraan niaga senilai Rp 24,66 triliun ini ditujukan untuk mendukung operasional Koperasi Desa Merah Putih. Rinciannya, 35 ribu unit adalah Mahindra Scorpio Pick Up, sementara 70 ribu unit sisanya berasal dari Tata Motors, terdiri dari 35 ribu unit Yodha Pick-Up dan 35 ribu unit Ultra T.7 Light Truck.
Redaksi telah berupaya mengonfirmasi langsung kepada Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, terkait dugaan serius ini. Meskipun sempat membalas pesan singkat, Mota tidak memberikan respons yang substansial atau klarifikasi mengenai tudingan tersebut hingga berita ini diturunkan.









Tinggalkan komentar