Cerita.co.id – Di balik gemerlap dominasi China sebagai raksasa kendaraan listrik (EV) global, tersimpan sebuah ‘bom waktu’ ekologis yang siap meledak. Jutaan baterai bekas kini membanjiri pasar, memicu kekhawatiran serius akan lingkungan dan bangkitnya praktik daur ulang ilegal yang berbahaya. Para pekerja di fasilitas daur ulang resmi memang sibuk memilah ribuan modul baterai, namun gelombang limbah ini jauh melampaui kapasitas yang ada.
Proyeksi mengerikan menunjukkan bahwa pada tahun 2030, China akan menghadapi ‘tsunami’ limbah baterai EV mencapai angka fantastis: 1 juta ton. Lonjakan masif ini bukan hanya ancaman bagi ekosistem, tetapi juga menjadi lahan subur bagi ‘ekonomi bawah tanah’ atau pasar gelap daur ulang yang beroperasi tanpa standar keamanan dan lingkungan yang memadai.
Kisah Wang Lei, 39, warga Beijing, menjadi cerminan nyata dari siklus ini. Pada Agustus 2025, Wang memutuskan untuk menjual mobil listrik yang ia beli sembilan tahun sebelumnya. Awalnya, ia merasa menjadi bagian dari gelombang inovasi domestik. Namun, seiring waktu, performa baterai menurun drastis, dan garansi telah kedaluwarsa.

Related Post
Biaya penggantian baterai baru yang selangit membuatnya memilih opsi penjualan. Melalui aplikasi Douyin, ia menemukan pengepul lokal di pinggiran kota yang menawar harga tinggi. Wang akhirnya melepas mobilnya seharga 8.000 Yuan (sekitar Rp17,6 juta), ditambah subsidi pemusnahan mobil (scrappage subsidy) dari pemerintah sebesar 20.000 Yuan. Total 28.000 Yuan (setara Rp61,6 juta) ia kantongi. Bagi Wang, masalahnya selesai. Namun, bagi China, ini adalah awal dari krisis yang lebih besar.
Ledakan kepemilikan kendaraan listrik di China dalam satu dekade terakhir tak lepas dari kebijakan subsidi pemerintah yang sangat royal. Data menunjukkan, pada akhir 2025, hampir 60 persen mobil baru yang terjual di China adalah kendaraan listrik murni atau plug-in hybrid. Namun, setiap baterai lithium-ion memiliki batas usia. Para pakar industri daur ulang sepakat bahwa baterai dianggap ‘pensiun’ dari kendaraan ketika kapasitasnya turun di bawah 80 persen, memicu gelombang penggantian yang masif.
Di tengah gelombang limbah yang menggunung, Beijing memang tengah berupaya keras membangun sistem daur ulang yang beradab dan terstandardisasi. Namun, upaya ini terbentur oleh menjamurnya praktik daur ulang ilegal yang menawarkan harga lebih tinggi, namun mengabaikan prosedur keselamatan dan standar lingkungan. Pemrosesan baterai secara sembarangan dapat melepaskan bahan kimia beracun ke tanah dan air, menciptakan polusi yang tak kalah berbahaya dari emisi kendaraan konvensional.
Dengan jutaan baterai yang mendekati akhir masa pakainya, tantangan China bukan lagi sekadar memimpin revolusi EV, melainkan bagaimana mengelola konsekuensi dari revolusi tersebut agar tidak berujung pada bencana lingkungan. Masa depan hijau yang diimpikan kini dihadapkan pada realitas pahit tumpukan limbah beracun yang terus bertambah.









Tinggalkan komentar