Rahasia Awet Baterai Mobil Listrik Masa Kini

Rahasia Awet Baterai Mobil Listrik Masa Kini

Cerita.co.id – Tren penggunaan kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan grafik yang meningkat pesat. Di tengah menjamurnya berbagai merek mobil dan motor listrik di jalanan tanah air, muncul satu pertanyaan besar yang sering menghantui calon pembeli: seberapa lama sebenarnya baterai kendaraan tersebut bisa bertahan? Menariknya, mayoritas produsen otomotif kini mulai beralih menggunakan teknologi baterai jenis Lithium Ferro-Phosphate atau yang lebih dikenal dengan istilah LFP.

Pilihan produsen global seperti BYD, Wuling, hingga Chery untuk mengandalkan baterai LFP bukanlah tanpa alasan yang kuat. Teknologi ini dianggap sebagai solusi masa depan yang menawarkan keseimbangan antara efisiensi biaya dan ketahanan jangka panjang. Berbeda dengan jenis baterai Nickel Manganese Cobalt (NMC) yang selama ini populer, LFP menawarkan profil performa yang sangat berbeda, terutama dalam hal usia pakai.

Rahasia Awet Baterai Mobil Listrik Masa Kini
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Wakil Ketua Pengembangan dan Penelitian Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Prabowo Kartoleksono, memberikan gambaran yang cukup mencengangkan mengenai perbandingan kedua jenis baterai ini. Dalam sebuah rapat dengar pendapat di DPR baru-baru ini, ia mengungkapkan bahwa masa pakai baterai LFP bisa jauh melampaui baterai NMC. Jika baterai jenis NMC diperkirakan memiliki usia operasional sekitar 10 tahun, maka baterai LFP berpotensi tetap berfungsi dengan baik hingga mencapai usia 20 tahun.

COLLABMEDIANET

Selain faktor umur yang panjang, keunggulan utama lainnya terletak pada tingkat degradasi atau penurunan kualitas sel baterai. Baterai LFP tidak mengalami penurunan kemampuan menyimpan daya secepat baterai NMC. Hal ini tentu menjadi nilai tambah bagi konsumen, karena mereka tidak perlu khawatir akan penurunan performa kendaraan dalam waktu dekat.

Dari sisi keamanan, LFP juga memegang kendali. Prabowo menjelaskan bahwa titik nyala atau suhu di mana baterai bisa terbakar pada jenis LFP jauh lebih tinggi dibandingkan NMC. Jika NMC mulai berisiko memicu api pada suhu sekitar 200 derajat Celcius, baterai LFP baru akan mencapai titik kritisnya pada suhu ekstrem mencapai 800 derajat Celcius. Standar keamanan yang tinggi inilah yang membuat banyak manufaktur merasa lebih tenang dalam memproduksi kendaraan berbasis LFP.

Tak hanya soal keamanan dan umur, faktor ekonomi juga menjadi alasan krusial. Biaya produksi baterai LFP relatif lebih murah dibandingkan NMC. Efisiensi biaya pada komponen baterai ini memungkinkan produsen untuk menekan harga jual kendaraan listrik ke konsumen akhir, sehingga kendaraan ramah lingkungan ini menjadi lebih terjangkau oleh masyarakat luas.

Meski memiliki segudang keunggulan, teknologi LFP bukan tanpa celah. Kelemahan utamanya terletak pada densitas energi. Dalam satuan berat yang sama, LFP cenderung lebih berat dan memiliki kapasitas penyimpanan energi yang tidak sepadat NMC. Namun, tantangan ini terus dijawab oleh para peneliti, terutama di Tiongkok, yang terus melakukan inovasi agar baterai LFP dapat memiliki kepadatan energi yang setara dengan NMC tanpa mengorbankan aspek keamanan dan ketahanannya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar