Cerita.co.id menyoroti kehebohan di jagat maya terkait motor trail listrik yang akan digunakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Warganet menemukan kemiripan mencolok antara motor tersebut dengan model listrik asal Tiongkok yang ditawarkan dengan harga jauh lebih terjangkau. Hal ini memicu dugaan kuat bahwa motor listrik untuk MBG adalah hasil rebranding dari produk "white label".
Motor listrik Emmo JVX GT, yang disebut-sebut sebagai pilihan untuk MBG, diklaim memiliki kemiripan signifikan dengan Kollter ES1-X PRO dari Tiongkok. Di platform marketplace global seperti Alibaba, Kollter ES1-X PRO bisa didapatkan dengan harga sekitar Rp 10 jutaan per unit, bahkan diskon menjadi Rp 8 jutaan untuk pembelian dua unit. Sayangnya, upaya konfirmasi dari Cerita.co.id kepada pihak Emmo maupun BGN terkait dugaan kemiripan ini belum membuahkan hasil.

Menanggapi fenomena ini, Hendro Sutono, pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik), menegaskan bahwa praktik rebranding produk "white label", khususnya dari Tiongkok, adalah hal yang lumrah dalam industri kendaraan listrik global. "White label" merujuk pada produk yang diproduksi tanpa merek, kemudian di-branding ulang oleh perusahaan lain. "Ini praktik umum," ujar Hendro kepada Cerita.co.id, menjelaskan bahwa mencari kendaraan yang murni dirancang dan dibangun di Indonesia justru lebih sulit, dengan contoh seperti GESITS, MAKA, dan QUEST.

Related Post
Hendro menjelaskan lebih lanjut bahwa harga yang tertera di platform B2B seperti Alibaba merupakan harga pabrik eksportir Tiongkok dalam kondisi Free on Board (FOB) atau Ex Works (EXW). Artinya, harga tersebut belum termasuk biaya pengiriman internasional, asuransi kargo, serta berbagai kewajiban perpajakan di Indonesia. Sebagai ilustrasi, jika harga pabrik di Tiongkok Rp 10 juta per unit, biaya pengiriman dan asuransi internasional bisa menambah 5-10%, menjadikan nilai Cost, Insurance, Freight (CIF) sekitar Rp 10,5-11 juta. Angka inilah yang menjadi dasar perhitungan pajak impor di Indonesia.
Importir akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 2,5% dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) impor 12% dari nilai pabean, belum lagi bea masuk yang bervariasi. Meskipun ada insentif bea masuk 0% untuk kendaraan listrik dalam bentuk Incompletely Knocked Down (IKD) dan Completely Knocked Down (CKD), ini hanya berlaku untuk produsen terdaftar dengan komitmen investasi tertentu. Setelah semua kewajiban impor terpenuhi, masih ada biaya pengangkutan domestik, pengurusan dokumen, logistik, hingga proses perakitan di pabrik Indonesia. Biaya-biaya seperti upah tenaga kerja, listrik, air, sewa, quality control, pengujian, dan sertifikasi turut menambah lapisan harga.
Dengan semua lapisan biaya tersebut, Hendro memperkirakan bahwa motor yang komponen dasarnya bernilai Rp 10 juta di Tiongkok bisa mencapai harga lebih dari Rp 40 juta di tangan konsumen Indonesia. Penting untuk dicatat, harga di Alibaba kemungkinan besar mengacu pada spesifikasi baterai kelas terendah. Sementara motor trail listrik Emmo untuk MBG disebut memiliki spesifikasi lebih tinggi, seperti motor bertenaga 7.000 Watt, baterai 72V 31Ah, fitur fast charging, garansi rangka lima tahun, garansi baterai tiga tahun, dan harus lolos uji tipe Kementerian Perhubungan. Semua ini tentu menambah nilai dan biaya produksi.
Hendro menyimpulkan, ini adalah cara kerja industri manufaktur global yang telah berlangsung puluhan tahun. Ia membandingkannya dengan sepatu yang dijual di mal seharga Rp 800 ribu dan sepatu Rp 80 ribu di pasar yang bisa saja berasal dari pabrik yang sama, namun berbeda dalam spesifikasi bahan, standar jahitan, dan kontrol kualitas yang dipesan oleh merek masing-masing.






Tinggalkan komentar