Cerita.co.id – Pernyataan Presiden terpilih Prabowo Subianto mengenai rencana peluncuran motor listrik nasional dalam beberapa minggu ke depan sontak memicu perbincangan hangat. Di satu sisi, kabar ini disambut antusias sebagai lompatan kemandirian teknologi. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan besar: bukankah Indonesia sudah memiliki Gesits, sebuah merek motor listrik yang lahir dari rahim inovasi anak bangsa?
Prabowo, dengan tegas, menyatakan akan menjadi pihak yang secara langsung meresmikan kehadiran motor listrik tersebut. "Sebentar lagi kita sudah punya motor nasional. Saya akan launching beberapa minggu ini motor listrik nasional," ujarnya belum lama ini, menggarisbawahi komitmennya terhadap proyek ini.
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Hendro Sutono, seorang pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik). Menurut Hendro, wacana motor listrik nasional bukanlah hal baru, mengingat Indonesia telah memiliki Gesits yang sudah terbukti eksistensinya.

Related Post
Gesits sendiri bukanlah proyek kemarin sore. Ia merupakan buah kolaborasi gemilang antara PT Garansindo, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), PT Pindad, PT LEN Industri, dan PT WIMA. Hendro menegaskan, proyek ini adalah manifestasi nyata sinergi antara akademisi, sektor swasta, dan dukungan negara. Ironisnya, setelah sempat mencuri perhatian, nama Gesits kini seolah tenggelam. Hendro menjelaskan, Gesits tidak lenyap, melainkan "tertidur pulas" di bawah payung investasi negara, setelah kepemilikannya diambil alih oleh Indonesia Battery Corporation (IBC) sejak akhir 2022.
"Melihat realitas ini, mengapa kita harus seolah-olah mengalami amnesia kolektif dan memulai proyek baru dari nol?" tanya Hendro retoris. Ia berargumen, dengan Danantara sebagai instrumen investasi yang telah menguasai ekosistem baterai dan merek Gesits, seharusnya fokus diarahkan pada revitalisasi aset yang sudah ada. Menciptakan merek baru tanpa mengatasi akar masalah yang menghambat Gesits, menurutnya, hanya akan berujung pada pemborosan anggaran dan sumber daya intelektual bangsa.
Kritik Hendro tak berhenti di situ. Ia menyoroti minimnya transparansi terkait proyek motor listrik baru ini. Publik, katanya, baru disuguhi janji peluncuran dan visi untuk mendukung mobilitas petani, namun wujud fisik, spesifikasi teknis, hingga cetak biru proyek masih diselimuti kabut misteri. "Belum ada pemaparan transparan mengenai arsitektur teknologi yang diusung. Kita belum tahu dari mana sel baterai disuplai, siapa mitra manufakturnya, atau bagaimana skema rantai pasoknya akan dibangun," papar Hendro, menambahkan bahwa pengumuman mendadak tanpa detail teknis yang matang justru menimbulkan kewaspadaan di kalangan pengamat dan pelaku industri.
Hendro mengingatkan, pembangunan industri kendaraan tanpa emisi bukanlah sekadar seremoni peluncuran atau pidato kebanggaan. Ini adalah "pertarungan maraton" untuk membangun ekosistem yang komprehensif. Aspek-aspek krusial meliputi lokalisasi komponen, penguasaan teknologi baterai, standardisasi keamanan, hingga upaya merebut kepercayaan konsumen yang kerap pragmatis terhadap layanan purnajual.
Pengalaman Gesits yang telah "menelan pil pahit" dalam menghadapi dinamika pasar, rantai pasok global, perubahan kebijakan insentif, serta persaingan ketat dengan merek multinasional, seharusnya menjadi literatur dan peta jalan berharga bagi pemerintah saat ini.
"Jika proyek baru ini hanya diartikan sebagai upaya memotong pita tanpa memecahkan kendala struktural, kita hanya menanti kegagalan berikutnya," tegas Hendro. Ia menambahkan bahwa masalah industri otomotif lokal seringkali bukan pada kemampuan teknis insinyur, melainkan pada inkonsistensi kebijakan dan kurangnya integrasi ekosistem pendukung. Oleh karena itu, menghidupkan kembali Gesits dinilai sebagai opsi yang jauh lebih rasional dan efisien, ketimbang memulai proyek baru yang berisiko memakan biaya dan waktu besar dari titik nol.









Tinggalkan komentar