Cerita.co.id – Di tengah hiruk pikuk pameran otomotif global dan gemerlap peluncuran model-model terbaru, industri mobil China di tahun 2025 justru menyimpan ironi yang mendalam. Meski mencatat rekor produksi fantastis hingga 31 juta unit, keuntungan bersih yang dikantongi pabrikan per unit kendaraan hanya sebatas ‘recehan’, menyentuh angka terendah kedua dalam sejarah.
Data terbaru dari China Passenger Car Association (CPCA) mengungkapkan fakta pahit tersebut. Dari periode Januari hingga November 2025, margin keuntungan rata-rata industri otomotif Tiongkok hanya mencapai 4,4 persen. Angka ini hanya sedikit lebih baik dari rekor terburuk 4,3 persen yang tercatat pada tahun 2024, menandakan tren penurunan profitabilitas yang mengkhawatirkan.
Bayangkan, dari rata-rata pendapatan per kendaraan yang mencapai 322.000 Yuan atau sekitar Rp708,4 juta, laba kotor yang tersisa setelah memangkas biaya produksi, pemasaran, dan operasional yang membengkak, hanya sekitar 14.000 Yuan. Ini setara dengan sekitar Rp30,8 juta per unit. Bagi sektor industri yang dikenal padat modal dan teknologi tinggi, margin setipis ini adalah sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan.

Related Post
Fenomena ini, menurut para analis, tak lepas dari sengitnya ‘perang harga’ yang melanda pasar otomotif domestik Tiongkok, ditambah dengan masifnya investasi dan biaya yang harus dikeluarkan untuk transisi menuju kendaraan energi baru (NEV). Kompetisi yang kian ketat memaksa pabrikan untuk memangkas harga demi mempertahankan pangsa pasar, namun dengan konsekuensi mengikis margin keuntungan secara drastis.
Sekretaris Jenderal CPCA, Cui Dongshu, dengan tepat menggambarkan situasi ini sebagai "pertumbuhan skala namun tekanan pada laba". Secara agregat, pendapatan total industri memang menunjukkan peningkatan signifikan, menembus angka psikologis 10 triliun Yuan (sekitar Rp22.720 triliun), naik 8,1 persen secara tahunan. Namun, pertumbuhan pendapatan ini tidak sejalan dengan peningkatan profitabilitas, menciptakan ilusi kemajuan yang rapuh.
Kondisi ini menyoroti tantangan serius yang dihadapi raksasa otomotif Tiongkok. Di satu sisi, mereka berhasil mendominasi pasar global dalam hal volume produksi. Namun di sisi lain, keberlanjutan finansial jangka panjang mereka terancam jika strategi profitabilitas tidak segera diperbaiki. Pertanyaan besar kini adalah, mampukah industri mobil China menemukan keseimbangan antara ambisi volume dan keuntungan yang sehat?









Tinggalkan komentar