Cerita.co.id – Fenomena penggunaan kendaraan listrik (EV) kini tengah menjamur di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun, di balik kecanggihan teknologi dan efisiensi energinya, muncul sebuah keluhan yang mulai sering terdengar dari para penumpang: rasa mual yang hebat. Fenomena ini memicu pertanyaan besar, apakah teknologi mobil listrik memang memiliki dampak sampingan terhadap kenyamanan penumpang?
Salah satu kasus yang menarik perhatian adalah pengalaman Lola Baird, seorang wanita asal London Utara. Sebelum memiliki mobil listrik, Lola tidak pernah mengalami masalah mabuk perjalanan. Namun, segalanya berubah sejak kekasihnya membeli mobil listrik dua tahun lalu. Setiap kali melakukan perjalanan jauh, Lola selalu merasa mual yang luar biasa hingga ia sempat meminta kekasihnya untuk mengganti kendaraan tersebut.
Ternyata, Lola bukanlah satu-satunya korban. Berdasarkan laporan dari BBC, banyak orang mulai melaporkan sensasi serupa saat duduk di kursi penumpang mobil listrik. Menariknya, fenomena ini hanya dirasakan oleh penumpang, sementara pengemudi biasanya tidak merasakan gangguan apa pun.

Related Post
Dr. Irene Di Giulio, seorang dosen senior di bidang anatomi dan biomekanika dari King’s College London, mengungkapkan bahwa sejauh ini memang ditemukan indikasi bahwa beberapa orang mengalami mabuk perjalanan yang lebih parah di dalam kendaraan listrik dibandingkan kendaraan konvensional. Hal ini memperkuat dugaan adanya perbedaan karakteristik gerak antara mesin pembakaran internal dengan motor listrik.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Nicholas Hac, seorang ahli saraf dari Northwestern Medicine Chicago, menyatakan bahwa ia sering menerima keluhan serupa dari pasiennya. "Saya sudah mendengarnya berkali-kali," ungkapnya. Hac mencatat bahwa rata-rata ada dua pasien setiap bulannya yang secara spesifik mengeluhkan mabuk perjalanan saat menjadi penumpang mobil listrik.
Meskipun demikian, para ahli mengingatkan bahwa penelitian mengenai hubungan antara mobil listrik dan mabuk perjalanan ini masih berada pada tahap awal. Dr. Bill Yates dari Universitas Pittsburgh menekankan bahwa saat ini informasi yang tersedia masih bersifat anekdot atau berdasarkan pengalaman individu, sehingga belum ada bukti ilmiah yang benar-benar komprehensif untuk menarik kesimpulan pasti.
Menanggapi fenomena ini, produsen mobil listrik Xpeng memberikan penjelasan teknis. Menurut pihak Xpeng, keluhan tersebut bukanlah sekadar perasaan semata, melainkan efek samping dari cara mobil listrik didesain.
Secara biologis, mabuk perjalanan terjadi akibat ketidakcocokan sinyal sensorik dalam tubuh. Manusia mengandalkan tiga sensor utama untuk mendeteksi pergerakan: penglihatan, sistem keseimbangan di telinga bagian dalam, dan saraf di seluruh tubuh. Ketika ketiga sinyal ini tidak sinkron—misalnya mata melihat benda diam (seperti ponsel) sementara tubuh merasakan gerakan—maka muncullah rasa mual.
Pada mobil listrik, Dr. Di Giulio menjelaskan bahwa kemampuan akselerasi dan deselerasi (pengereman) yang sangat cepat dan instan dibandingkan mobil konvensional menjadi pemicu utama. Perubahan kecepatan yang sangat mendadak ini membuat sistem keseimbangan tubuh kesulitan beradaptasi. Selain itu, faktor genetik juga berpengaruh, di mana perempuan dan anak-anak diketahui memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap mabuk perjalanan.






Tinggalkan komentar