Cerita.co.id – Kemampuan mengoperasikan dan merawat kendaraan niaga berat seperti bus dan truk ternyata tidak bisa hanya mengandalkan pengalaman semata. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) secara tegas menyoroti bahaya di balik mentalitas "sok tahu" yang masih melekat pada sebagian mekanik dan pengemudi, menekankan pentingnya pengetahuan teknis yang terstandar demi keselamatan transportasi.
Senior Investigator KNKT, Ahmad Wildan, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap mentalitas di lapangan. "Mekanik dan pengemudi kita itu sok pintar, merasa sudah pandai, merasa sudah pengalaman," ujar Wildan dalam sebuah kesempatan di Jakarta. Ia bahkan mencurigai klaim mekanik yang mengaku hafal seluruh manual bengkel, mengingat bahkan orang pabrikan pun tidak mungkin menghafal detail prosedur yang sangat kompleks.
Menurut Wildan, seorang mekanik yang kompeten justru tidak akan mengandalkan hafalan. Setiap pekerjaan, terutama yang berkaitan dengan perawatan atau perbaikan, wajib merujuk pada workshop manual atau buku panduan teknis yang memang didesain untuk tidak dihafal, melainkan sebagai panduan langkah demi langkah. Mengabaikan panduan ini dapat berakibat fatal pada kinerja dan keselamatan kendaraan.

Related Post
Permasalahan kompetensi ini semakin krusial seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi pada kendaraan niaga. Sistem elektronik yang kian canggih dan kompleks menuntut mekanik serta pengemudi memiliki pemahaman yang lebih dari sekadar pengalaman. Oleh karena itu, pendidikan vokasi menjadi pilar utama dalam menyiapkan sumber daya manusia yang terampil dan sesuai dengan standar industri.
Keterlibatan industri dalam dunia pendidikan menjadi sangat vital. Sales & After Sales Director Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), Susilo Darmawan, menegaskan komitmen perusahaannya. "Bagi Hino, mendukung dunia pendidikan merupakan bagian dari kontribusi kami untuk Indonesia. Melalui kolaborasi dengan pemerintah, kami ingin membantu mencetak lulusan yang siap bekerja dan menjawab kebutuhan industri," ujar Susilo di sela-sela GIIAS 2026, ICE BSD City, Tangerang.
Senada, Direktur SMK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Arie Wibowo Khurniawan, menyoroti peran strategis pendidikan vokasi. "Pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kolaborasi antara sekolah dan dunia industri menjadi kunci agar lulusan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan teknologi yang terus berubah," jelas Arie.
Kolaborasi konkret ini terwujud melalui program seperti Hino Indonesia Partnership School (HIPS), yang menjembatani sekolah kejuruan dengan dunia industri. Program ini mencakup penyelarasan kurikulum, pelatihan intensif bagi guru, sertifikasi kompetensi, hingga kesempatan praktik kerja industri. Tak hanya untuk calon tenaga kerja, Hino Indonesia Academy juga dikembangkan untuk meningkatkan kompetensi mekanik, pengemudi, dan profesional yang sudah berkecimpung di industri, memastikan mereka selalu up-to-date dengan teknologi terbaru.
Pada akhirnya, secanggih apa pun kendaraan niaga, tetap membutuhkan sentuhan sumber daya manusia yang terdidik dan terlatih. Pengalaman memang merupakan guru terbaik, namun tanpa dibekali pengetahuan teknis yang mendalam dan kepatuhan terhadap prosedur standar, pengalaman justru bisa menjadi bumerang yang memicu sikap meremehkan standar keselamatan, berujung pada potensi bahaya di jalan raya.









Tinggalkan komentar