Cerita.co.id – Jagat maya kembali dihebohkan oleh ulah seorang konten kreator bernama ebemartono yang viral setelah merekam salah satu usher di pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) tanpa izin. Insiden ini semakin memanas ketika sang kreator justru menuntut ganti rugi biaya produksi saat diminta menghapus konten tersebut, sebelum akhirnya menyampaikan permintaan maaf.
Kontroversi ini bermula saat akun Instagram @ebemartono mengunggah sebuah video berjudul ‘cara mendekati cewek’ yang diambil selama kunjungannya ke GIIAS. Dalam tayangan tersebut, beberapa usher pameran terekam tanpa sepengetahuan dan persetujuan mereka. Salah satu usher yang merasa keberatan kemudian meminta agar video yang menampilkan dirinya dihapus dari media sosial. Namun, alih-alih memenuhi permintaan tersebut, ebemartono malah mengajukan tuntutan pembayaran sebagai kompensasi atas biaya produksi videonya.
Menanggapi insiden yang mencuat ini, Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa tindakan merekam seseorang tanpa izin (candid), apalagi untuk tujuan komersial atau popularitas dengan narasi seperti ‘cara mendekati cewek’, merupakan perbuatan yang tidak hanya tidak beretika tetapi juga melanggar hukum. Habiburokhman menekankan pentingnya GIIAS sebagai ruang yang aman bagi semua pihak, khususnya para profesional yang bertugas.

Related Post
Setelah menjadi perbincangan hangat dan menuai kritik tajam dari berbagai pihak, ebemartono yang diketahui bernama Brian, akhirnya merilis video permintaan maaf melalui akun Instagramnya. Dalam pernyataannya, Brian menyampaikan penyesalan mendalam atas segala kekeliruan dan dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindakannya. "Saya tidak membenarkan, saya hanya meminta maaf atas semua pihak yang merasa dirugikan," ujarnya, memohon maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan.
Peran usher di pameran seperti GIIAS memang seringkali menjadi daya tarik tersendiri. Mereka bertugas sebagai ‘pemanis’ produk kendaraan dan dituntut untuk memiliki pengetahuan dasar tentang produk yang didampingi, sambil tetap menjaga keramahan kepada pengunjung. Namun, penting untuk diingat bahwa meskipun mereka berada di ruang publik, merekam atau memotret mereka, terutama untuk dijadikan konten pribadi atau komersial, tetap memerlukan izin dan persetujuan dari individu yang bersangkutan. Menghormati privasi dan hak individu adalah etika dasar yang harus dijunjung tinggi.







Tinggalkan komentar