Cerita.co.id – Sebuah skandal korupsi besar terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh eks Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana kini semakin terang benderang. Kejaksaan Agung telah mengungkap fakta mengejutkan: vendor penyedia ribuan motor listrik untuk program tersebut, PT Yasa Artha Trimanunggal (PT YAT), ternyata tidak memenuhi syarat fundamental, yakni ketiadaan dealer atau bengkel aktif.
Kejaksaan Agung sebelumnya telah menetapkan Dadan Hindayana bersama dua wakil BGN, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, sebagai tersangka. Ketiganya diduga terlibat dalam praktik mark-up anggaran serta pengadaan barang yang tidak sesuai peruntukan, merugikan keuangan negara secara signifikan.

Salah satu item pengadaan yang menjadi sorotan adalah 21.801 unit motor listrik. Menurut data resmi dari Kejaksaan Agung, nilai total pengadaan puluhan ribu kendaraan roda dua bertenaga listrik ini mencapai angka fantastis, Rp 1.035.515.297.908,02, atau lebih dari satu triliun rupiah. Ironisnya, seluruh dana tersebut dilaporkan sudah dibayarkan kepada PT YAT, sebuah perusahaan yang kini terbukti tidak memiliki infrastruktur pendukung yang memadai sebagai vendor.

Related Post
"Telah dibayarkan ke PT YAT yang tidak memenuhi syarat selaku Vendor karena tidak memiliki dealer/bengkel aktif dan terdapat markup," demikian keterangan yang dirilis oleh pihak Kejaksaan Agung.
Sebelumnya, Dadan Hindayana sempat mengklaim bahwa pengadaan motor listrik ini ditujukan untuk Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Ia bahkan menyebutkan bahwa motor-motor tersebut didapatkan dengan harga yang lebih murah dari pasaran, yakni Rp 42 juta per unit, jauh di bawah harga pasar yang disebutnya Rp 52 juta.
Namun, penelusuran di laman katalog Inaproc menunjukkan bahwa PT YAT menawarkan dua model motor listrik merek Emmo: Emmo JVX GT seharga Rp 49,95 juta dan Emmo JVH Max seharga Rp 48,84 juta. Kedua model tersebut tertera dengan status pra-pesan (pre-order) selama 75 hari.
Tim Cerita.co.id, dalam investigasinya pada April 2026, sempat melakukan kunjungan ke lokasi yang disebut-sebut sebagai dealer pertama Emmo di kawasan Grogol, Jakarta Barat. Namun, yang ditemukan adalah sebuah bangunan dealer yang belum rampung sepenuhnya, meskipun klaimnya sudah mencapai 90 persen. Pengamatan di lokasi mengungkap bahwa dealer tersebut tampak minimalis, tanpa satu pun unit kendaraan yang dipajang. Area bengkel pun terlihat terpisah dari bangunan utama.
Yang lebih mengejutkan, di area yang sama dengan dealer Emmo, terdapat sebuah ruangan besar yang dilengkapi dengan peralatan dapur. Kabarnya, ruangan tersebut direncanakan akan berfungsi sebagai dapur untuk program MBG. Fasilitas ini, menurut informasi yang beredar, memiliki kepemilikan yang sama dengan dealer Emmo Grogol, menambah kompleksitas dan tanda tanya besar di balik proyek triliunan rupiah ini. Kasus ini terus bergulir, menanti kejelasan dan pertanggungjawaban penuh dari pihak-pihak yang terlibat.









Tinggalkan komentar