Bos Honda Syok China Tak Terbendung

Dana Sulistiyo

Bos Honda Syok China Tak Terbendung

Cerita.co.id melaporkan bahwa CEO Honda, Toshihiro Mibe, baru-baru ini membuat pengakuan mengejutkan yang mengguncang industri otomotif global. Setelah kunjungan langsung ke fasilitas pemasok di Tiongkok, Mibe secara blak-blakan menyatakan bahwa sangat sulit bagi Honda untuk bersaing dengan kecepatan dan efisiensi raksasa otomotif dari Negeri Tirai Bambu tersebut. Pernyataan ini bukan sekadar keluhan, melainkan refleksi dari tantangan besar yang kini dihadapi salah satu produsen mobil terbesar di dunia.

Situasi Honda memang sedang tidak baik-baik saja, terutama di pasar Tiongkok yang menjadi medan pertempuran sengit bagi kendaraan listrik. Perusahaan ini sebelumnya telah membatalkan tiga model mobil listrik yang dirancang khusus untuk pasar Amerika Serikat, hasil kolaborasi dengan Sony. Alasannya? Honda merasa tidak mampu menawarkan produk yang memberikan nilai lebih baik dibandingkan para pemain baru di segmen EV. Akibatnya, kerugian miliaran dolar tercatat, bahkan para eksekutif rela menerima pemotongan gaji sebagai bentuk tanggung jawab atas kinerja yang melambat.

Bos Honda Syok China Tak Terbendung
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Kunjungan Mibe ke pabrik pemasok di Tiongkok menjadi titik balik kesadarannya. Ia menyaksikan langsung fasilitas produksi yang nyaris tanpa campur tangan manusia, mampu menghasilkan komponen dengan kecepatan luar biasa, biaya rendah, namun tetap mempertahankan standar kualitas tinggi. "Kami tak punya kesempatan," ujar Mibe, seperti dikutip dari laporan Nikkei Asia, menyiratkan betapa jauhnya ketertinggalan Honda dalam hal efisiensi produksi. Laporan tersebut juga menyoroti bahwa Honda membutuhkan waktu dua kali lebih lama untuk meluncurkan model baru dibandingkan para pesaingnya dari Tiongkok.

COLLABMEDIANET

Untuk mengatasi krisis ini, Honda berupaya keras mengembalikan divisi riset dan pengembangan (R&D) ke dalam struktur perusahaan induk, setelah selama 60 tahun berjalan secara independen. Mibe, yang pada tahun 2020 sempat memimpin R&D, kini mengambil langkah drastis ini untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat inovasi. Tujuannya adalah mengembalikan semangat R&D Honda ke "akar-akarnya," seperti saat mereka melahirkan inovasi revolusioner seperti mesin CVCC yang ramah lingkungan atau sistem VTEC yang memadukan performa dan efisiensi.

Penjualan Honda di Tiongkok menjadi cerminan nyata dari tantangan ini. Dari 1,6 juta unit mobil yang terjual pada tahun 2020, kini Honda hanya menargetkan 600 ribu unit untuk tahun ini, dengan pabrik-pabrik yang beroperasi hanya setengah dari kapasitasnya. Mibe menekankan bahwa perusahaan dan seluruh rantai pasokannya harus bergerak cepat, mengembangkan keterampilan dan kecepatan yang diperlukan agar Honda dapat kembali bersaing di pasar global yang semakin dinamis. Masa depan Honda, tampaknya, sangat bergantung pada seberapa cepat mereka bisa beradaptasi dengan realitas baru yang didominasi oleh efisiensi dan inovasi ala Tiongkok.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar